KABUT tipis menyelimuti permukaan Sungai Labian-Leboyan yang mengalir sunyi membelah jantung Kalimantan. Dari kejauhan, kepakan sayap dan suara burung-burung serta gemerisik tajuk pohon raksasa terdengar bersahut-sahutan. Ritme alam ini seolah sedang menyanyikan himne purba tentang kemegahan alam Borneo.
Koridor Labian-Leboyan adalah sebuah jembatan ekologis raksasa penentu napas kehidupan yang menghubungkan dua mahakarya konservasi dunia: Betung Kerihun di arah selatan dan Danau Sentarum di hamparan utara.
Merespons situasi tersebut, tim redaksi Kolase.id menurunkan laporan mendalam dari hasil perjalanan jurnalistik ke wilayah utara Kapuas Hulu pada 16 hingga 24 Mei 2026. Laporan ini merekam secara dekat bagaimana kondisi terkini wilayah yang telah menyandang status cagar biosfer dunia dari UNESCO, tak lagi sepenuhnya utuh.
Deru mesin gergaji sisa masa lalu yang perlahan berganti dengan deru alat berat dari ekspansi perkebunan kelapa sawit mulai mengusik keheningan koridor purba tersebut. Aliran air yang dulunya jernih bak kaca, kini berubah warna menjadi cokelat pekat akibat erosi tanah yang kehilangan cengkeraman akar, mengirimkan endapan lumpur dan perlahan meracuni danau musiman terbesar di Asia Tenggara.
Di daratan, tajuk-tajuk pohon yang terputus memaksa satwa endemik seperti orangutan Kalimantan terisolasi di dalam kantong-kantong hutan yang kian menyusut, merenggut kemerdekaan mereka untuk berkelana.
Ironi kelestarian cagar biosfer ini terasa semakin nyata ketika benturan antara konservasi lingkungan, kepentingan investasi, dan jeritan ekonomi masyarakat lokal mulai mengetuk pintu-pintu desa di sepanjang daerah aliran sungai. Di batas koridor inilah, cerita tentang ancaman ekologis raksasa ini mewujud dalam pergulatan nyata yang dihadapi oleh para pemimpin lokal. Berikut ulasannya:
Jembatan Alam Raksasa di Jantung Kalimantan
Sungai Labian-Leboyan adalah jembatan alam raksasa di jantung Kalimantan. Aliran sungainya berhulu di kaki Bukit Garam yang berbatasan langsung dengan negeri tetangga Sarawak, Malaysia.
Sungai ini meliuk membelah sisi barat Danau Sentarum, terus mengalir ke selatan hingga menyentuh kawasan Betung Kerihun. Di sepanjang aliran air inilah, denyut kehidupan tujuh desa menggantungkan hidup mereka—mulai dari Dusun Bakul di hulu, hingga Batu Rawan di hilir.
Namun, Labian-Leboyan menyimpan kisah pilu tentang sebuah ruang hidup yang perlahan memudar. Ada masa di mana sungai ini adalah sebuah surga tersembunyi. Sebelum badai pembalakan liar merajalela pada 2002 hingga 2004, air Sungai Labian-Leboyan begitu bening layaknya kaca. Saking jernihnya, kawanan ikan yang berenang di dasar sungai bisa terlihat jelas dari permukaan.
Kini, lanskap itu tinggal kenangan. Air sungai telah berubah warna menjadi cokelat pekat. Tanpa cengkeraman akar-akar pohon yang habis dibabat demi rupiah, tanah mati-matian menahan erosi yang akhirnya hanyut ke sungai. Air keruh ini mengalir langsung, mengotori Danau Sentarum dan mengusik ketenangan spesies ikan air bersih di dalamnya.
Tak hanya di dalam air, nestapa juga terjadi di daratan. Satwa-satwa ikonik seperti orangutan, bekantan, dan monyet lokal kini hidup merana. Mereka terkurung di dalam “kantong-kantong” hutan kecil yang terisolasi akibat rumah mereka yang terkoyak.
Betung Keruhun-Danau Sentarum Jantung Hidrologi Kalimantan
Danau Sentarum adalah hamparan raksasa hidrologi yang unik. Danau seluas 132.000 hektare ini ditetapkan sebagai taman nasional sejak 1999. Dikepung oleh jajaran pegunungan, kawasan ini bertindak sebagai spons raksasa atau daerah tangkapan air bagi Kalimantan Barat.
Siklus hidup di sini begitu dramatis. Saat musim hujan tiba, cekungan dataran rendahnya akan menjelma menjadi laut tawar raksasa dengan kedalaman mencapai 6 hingga 14 meter, menampung seperempat luapan air Sungai Kapuas.
Sebaliknya, saat kemarau panjang melanda, danau ini akan mengering total hingga menyerupai hamparan daratan yang hanya menyisakan alur-alur sungai kecil. Di saat kering inilah, Danau Sentarum berganti peran dengan menggelontorkan separuh debit airnya untuk menghidupi Sungai Kapuas hingga ke muara.
Ikan-ikan di dalamnya pun ikut bermigrasi. Sebagian mengungsi ke Sungai Kapuas, dan sebagian lagi terjebak di lubuk-lubuk air, menjadi berkah bagi para predator dan nelayan setempat.
Jika Danau Sentarum di utara mendapat pasokan air segar dari kaki Pegunungan Muller Schwaner, maka Koridor Labian-Leboyan adalah “agen kurir kilat” yang meneruskan air tersebut dari Betung Kerihun di selatan. Layaknya jalur logistik utama, koridor ini harus terus dijaga agar aliran air tidak “macet” atau terbuang sia-sia sebelum sampai ke tujuan.
United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) kemudian menetapkan Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum sebagai Cagar Biosfer dalam sidang International Coordinating Council (ICC) of the Man and the Biosphere (MAB) Programme pada 25 Juli 2018 di Palembang, bersamaan dengan penyelenggaraan 10th World Congress of Biosphere Reserves.
Cagar Biosfer ini mencakup wilayah seluas lebih dari 2,5 juta hektare, terdiri atas Betung Kerihun 800.000 hektare – berbatasan langsung dengan Sarawak, Malaysia, Danau Sentarum 132.000 hektare – dikenal dengan ekosistem danau musiman terbesar di Asia Tenggara, dan zona penyangga meliputi hutan lindung, perkebunan masyarakat, serta desa-desa adat di Kabupaten Kapuas Hulu.
Melihat kemiripan flora dan faunanya, para ahli meyakini bahwa dahulu kala, Danau Sentarum dan Betung Kerihun adalah satu kesatuan ekosistem yang utuh tanpa sekat. Sayangnya, keserakahan manusia telah memfragmentasi koridor hijau ini menjadi serpihan habitat yang terpisah-pisah. Jalur migrasi satwa pun terputus, membuat mereka terisolasi di rumahnya sendiri.
Harapan itu belum sepenuhnya punah. Didorong oleh rasa cinta pada tanah kelahiran, masyarakat setempat kini mulai bergerak. Mereka memiliki satu mimpi besar, memulihkan kembali Koridor Labian-Leboyan dan menyambung kembali kantong-kantong hutan yang terfragmentasi di sepanjang daerah aliran sungai.
Mereka tahu, ketika koridor hijau ini tersambung kembali, margasatwa Kalimantan akan kembali menemukan kemerdekaannya untuk menjelajah dengan leluasa antara Danau Sentarum dan Betung Kerihun.
Kisah di Balik Benteng Terakhir Orangutan Ngaung Keruh
Hutan di Dusun Ngaung Keruh perlahan menyusut, dan bersamanya, sebuah babak kepunahan sunyi sedang mengancam orangutan Kalimantan. Rumah yang dulunya menyediakan makanan melimpah bagi satwa langka ini, kini kian sempit. Jalur-jalur migrasi yang biasa mereka lalui ratusan tahun lalu pun mulai terputus.
Saking jarangnya primata ini menampakkan diri, pertemuan tidak sengaja antara manusia dan orangutan kini berubah menjadi peristiwa yang sakral sekaligus menghebohkan bagi warga lokal.
Dulu, melihat orangutan mungkin adalah hal biasa. Namun sekarang, setiap kali ada warga yang berpapasan dengan makhluk pemalu ini, cerita tersebut akan langsung menyebar dari mulut ke mulut, menjadi buah bibir yang hangat di sudut-sudut kampung.
Setiap orang yang beruntung menjumpainya merasa punya cerita berharga untuk dibagikan, lengkap dengan ekspresi kekaguman saat saling bertatap muka di tengah hutan. Satwa dimaksud adalah sub-spesies Pongo pygmaeus pygmaeus, satu-satunya jenis orangutan yang mendiami Koridor Labian-Leboyan.
Kehadiran mereka di sekitar permukiman sebenarnya adalah tanda kerinduan mereka pada jalur leluhur. Sejak gerakan restorasi hutan dimulai, warga mulai akrab dengan perjumpaan orangutan.
Diduga, satwa-satwa ini turun dari kawasan Betung Kerihun, menjelajahi Hutan Mensiau, hingga akhirnya tiba di Ngaung Keruh. Wilayah ini merupakan jalur migrasi alami mereka sejak dahulu kala.
Sayangnya, perjalanan pulang sang orangutan kini tak lagi mudah. Ruang gerak primata cerdas ini kian terjepit oleh kepungan peradaban manusia. Mulai dari ekspansi perkebunan kelapa sawit, menjamurnya permukiman, hingga bentangan jalan raya yang membelah hutan.
Sebagai satwa arboreal, orangutan adalah pengelana tajuk pohon. Mereka menghabiskan hampir seluruh hidupnya di atas dahan dan sangat enggan menyeberangi kawasan terbuka di atas tanah tanpa perlindungan. Mereka butuh kanopi hijau yang saling menyambung untuk bisa melangkah.
Beruntung, saat ini masih ada sisa-sisa sambungan hutan yang menghubungkan Ngaung Keruh di Desa Labian dengan hutan di Desa Mensiau hingga ke Betung Kerihun. Bagi orangutan yang tersisa, Dusun Ngaung Keruh adalah benteng pertahanan terakhir bagi pengembaraan mereka yang kian terancam punah.
Ekspansi Sawit PT ESR dan Dua Wajah Perilaku Masyarakat di Batas Koridor Labian-Leboyan
Kepala Desa Sepandan Adi Gunawan menarik napas dalam-dalam saat menceritakan kompleksitas persoalan yang melilit wilayahnya di Kecamatan Batang Lupar. Sebagai desa yang berbatasan langsung dengan Koridor Labian-Leboyan dan penyangga ekosistem Danau Sentarum, Sepandan kini menghadapi dilema besar akibat ekspansi perkebunan kelapa sawit milik PT PT Equator Sumber Rezeki (ESR).
Dari empat dusun yang tersebar, hanya Dusun Tematu yang melepas lahannya untuk korporasi tersebut. Kehadiran investasi ini nyatanya memicu perubahan drastis pada perilaku masyarakat dan tata kelola lingkungan, tanpa memberikan kontribusi nyata bagi kas desa maupun kesejahteraan warga secara menyeluruh.
Warga Dusun Tematu, yang mayoritas merupakan masyarakat Iban, kini memegang teguh karakter independen yang ekstrem dan menolak keras segala bentuk intervensi pemerintah desa sejak beralih profesi menjadi buruh sawit.
Mereka memilih mengelola wilayah secara mandiri demi mengantongi upah harian dari PT ESR. Perubahan perilaku masyarakat ini memicu benturan keras terhadap upaya konservasi.
Ketika pemerintah desa berencana membentuk Hutan Desa untuk melindungi jalur Koridor Labian-Leboyan yang tersisa, kemarahan warga Tematu justru meledak. Mereka menolak program tersebut dan membuat pembinaan lingkungan mandek hingga sekarang.
Keteguhan warga Dusun Tematu dalam menutup diri juga mementalkan program kesehatan publik dari pemerintah pusat. Misalnya, kegagalan tim medis saat mencoba membenahi sebuah rumah betang kumuh di dusun tersebut.
Meski pihak desa telah membagikan kloset gratis, warga menolak membangun WC layak karena menganggap sanitasi sebagai urusan privat yang tidak boleh diganggu gugat. Bahkan, ketika tim kesehatan mengajak warga bergotong-royong membersihkan lingkungan dari ancaman limbah dan penyakit, warga justru menuntut bayaran untuk membersihkan halaman rumah mereka sendiri.
Kondisi ekologis dan sosial ini semakin pelik karena manajemen PT ESR menutup diri. Perusahaan sawit itu tidak menyetor kontribusi sepeser pun untuk Pendapatan Asli Desa (PAD) Sepandan serta memutus komunikasi pasca-sosialisasi formalitas di awal masuk.
Pihak desa pun berada dalam ruang gelap tanpa kejelasan program Corporate Social Responsibility (CSR). Adi sempat mengusulkan pembagian kebun plasma desa seluas 6 hektare untuk membiayai fasilitas umum, namun warga Dusun Tematu langsung menjegal langkah tersebut. Mereka mengklaim hasil sawit dari lahan terkonsesi PT ESR itu sebagai hak privat kelompok, yang haram dibagikan kepada warga dusun lain di Sepandan.
Perilaku masyarakat di Dusun Tematu terpotret sangat kontras jika dibandingkan dengan Dusun Kedungkang, wilayah paling terpencil di Desa Sepandan yang bertengger 18 kilometer dari pusat desa dan berbatasan dengan Danau Sentarum serta Lanjak Deras.
Kendati jalur darat menuju Kedungkang rusak parah dan memaksa warga merogoh ongkos transportasi air yang mahal hingga Rp140.000 sekali jalan, ia menaruh hormat yang tinggi terhadap warga di sana. Dusun Kedungkang steril dari ekspansi perkebunan kelapa sawit karena komitmen kuat warganya.
Masyarakat Dusun Kedungkang memilih jalan hidup yang berbeda dengan tetap mempertahankan dan merawat Hutan Adat mereka secara ketat. Di dusun ini, ikatan gotong royong masyarakat setempat masih berjalan kokoh.
Mereka bahu-membahu menjaga kelestarian ekosistem hutan dan wilayah perairan danau di sekitarnya dari ancaman kerusakan lingkungan. Keberadaan Hutan Adat Kedungkang kini menjadi benteng pertahanan terakhir yang menjaga fungsi hidrologi dan kelestarian Koridor Labian-Leboyan yang menghubungkan Danau Sentarum dengan Betung Kerihun.
Bagi Adi, tanpa adanya tata kelola yang seimbang, ekspansi sawit di Dusun Tematu hanya akan terus memperburuk benturan sosial dan mengancam kelestarian jangka panjang Koridor Labian-Leboyan serta Danau Sentarum yang berharga.*
