Setelah Amok, Dunia Mengenal Karhutla?

oleh M. Hermayani Putera

Ilustrasi ironi karhutla Indonesia: kekayaan hutan tropis dan satwa liar berhadapan dengan kebakaran, kabut asap, serta dampaknya bagi masa depan bangsa. Dok. Kolase.id

KATA amok sudah lama menjadi bagian dari kosa kata bahasa Inggris. Berasal dari bahasa Melayu amuk, kata ini menggambarkan tindakan mengamuk atau perilaku yang tak terkendali.

Nusantara juga menyumbangkan banyak kata lain kepada dunia. Ada orangutan, bamboo, rattan, sarong, batik, hingga angklung. Kata-kata itu membawa jejak alam, kebudayaan, dan kehidupan masyarakat yang tumbuh di kawasan ini.

Kini, Indonesia punya satu kandidat baru: karhutla, singkatan dari kebakaran hutan dan lahan.

Tentu, belum ada jaminan kata ini akan masuk kamus bahasa Inggris atau digunakan secara luas di berbagai negara. Namun, jika kebakaran hutan dan lahan terus berulang dan menjadi perhatian internasional, bukan tidak mungkin istilah tersebut semakin dikenal di luar Indonesia.

Ironisnya, kita mungkin akan menyumbangkan kata baru kepada dunia bukan karena keberhasilan menjaga kekayaan alam dan budaya, melainkan karena kegagalan menyelesaikan persoalan yang terus berulang.

Tentu saja, ini satire. Tetapi, bukankah kenyataan kadang menawarkan bahan sindiran yang jauh lebih kuat daripada imajinasi?

Selama ini, Indonesia dikenal sebagai zamrud khatulistiwa. Hutan tropis dan keanekaragaman hayatinya menjadi kekayaan yang membuat negeri ini diperhitungkan dunia.

Orangutan, harimau, badak, dan gajah Sumatera, hingga burung cenderawasih, merupakan bagian dari kekayaan fauna yang tak ternilai. Hutan juga menopang kehidupan masyarakat, menyimpan karbon, menjaga tata air, dan menjadi rumah bagi jutaan makhluk hidup.

Sayangnya, ada sisi lain yang ikut membentuk citra Indonesia di mata dunia. Ketika musim kering tiba dan kebakaran meluas, berita tentang hutan yang terbakar serta kabut asap kembali memenuhi pemberitaan.

Sumatera dan Kalimantan berkali-kali menghadapi persoalan ini. Papua dan berbagai wilayah lain di Nusantara juga tidak sepenuhnya terbebas dari ancaman kebakaran.

Kita pun akrab dengan istilah titik panas, lahan gambut, pemadaman, modifikasi cuaca, hingga operasi penegakan hukum. Istilah-istilah tersebut muncul dalam konferensi pers, laporan resmi, dan percakapan publik. Sebagian terdengar teknis, sebagian lain terasa seperti pengulangan dari naskah yang pernah dibaca pada tahun-tahun sebelumnya.

Bayangkan suatu hari seorang mahasiswa asing bertanya kepada temannya, “Have you heard about karhutla?”

Temannya menjawab, “Yes. Indonesian forest and land fires.“

Percakapan itu mungkin belum terjadi. Namun, jika istilah tersebut semakin sering muncul dalam jurnal ilmiah, laporan lingkungan, dan media internasional, siapa tahu karhutla kelak tak perlu lagi diterjemahkan panjang lebar.

Tentu, tidak semua kata yang dikenal dunia harus menjadi sumber kebanggaan. Kita senang ketika batik dikenal sebagai warisan budaya, angklung dipelajari sebagai alat musik tradisional, atau orangutan menjadi perhatian dunia karena keunikannya. Ada cerita tentang kreativitas, identitas budaya, dan kekayaan alam yang layak dibagikan kepada masyarakat internasional.

Akan berbeda ceritanya jika karhutla menjadi terkenal karena kebakaran yang terus berulang.

Apa yang hendak kita banggakan? Kemampuan membakar lahan dalam skala luas? Ketahanan masyarakat menghadapi asap? Atau kecakapan menyelenggarakan konferensi pers setiap kali api kembali menyala?

Tentu bukan itu yang kita inginkan. Petugas pemadam, masyarakat peduli api, relawan, tenaga kesehatan, dan berbagai organisasi telah bekerja keras menghadapi karhutla.

Mereka berhadapan langsung dengan bahaya, keterbatasan peralatan, dan kondisi lapangan yang sulit. Dalam perjuangan ini, risiko kehilangan nyawa pun nyata. Kerja keras dan pengorbanan mereka patut dihargai.

Justru kerja keras itulah yang membuat persoalan ini layak mendapat perhatian lebih serius. Ketika begitu banyak tenaga dikerahkan untuk memadamkan api, kita perlu memastikan bahwa penyebab kebakaran juga ditangani sampai ke akarnya.

Memadamkan api merupakan kebutuhan mendesak. Namun, pencegahan membutuhkan konsistensi yang jauh lebih panjang. Pengawasan harus berjalan, tata kelola lahan perlu dibenahi, dan hukum mesti ditegakkan tanpa pandang bulu.

Kondisi cuaca yang kering memang dapat meningkatkan risiko kebakaran, tetapi dampaknya juga ditentukan oleh cara manusia mengelola lahan dan melindungi ekosistem.

Ada ironi lain yang lebih menyakitkan. Ketika hutan terbakar, anak-anak ikut menghirup udara yang tercemar. Mereka tidak membuka lahan, tidak menentukan kebijakan pemanfaatan hutan, dan tidak menikmati keuntungan dari aktivitas yang memicu kerusakan. Namun, kesehatan merekalah yang ikut dipertaruhkan.

Sekolah terganggu, aktivitas warga dibatasi, dan kelompok rentan harus lebih berhati-hati menjaga kesehatan. Di beberapa tempat, masyarakat bahkan harus menghadapi persoalan air bersih ketika musim kering datang bersamaan dengan kebakaran.

Kalau suatu hari karhutla benar-benar menjadi kata yang dikenal luas di dunia, semoga anak-anak Indonesia tidak perlu menjelaskan maknanya kepada teman-teman mereka di luar negeri. Mereka sudah cukup menanggung dampaknya. Jangan sampai mereka juga harus menjadi duta kecil bagi kegagalan kita menjaga lingkungan.

Kita tentu tidak bisa menyalahkan Indonesia sebagai sebuah bangsa. Banyak warga justru berada di garis depan untuk melindungi hutan dan mencegah kebakaran. Persoalannya terletak pada bagaimana pemerintah, korporasi, dan para pemangku kepentingan lainnya mengelola sumber daya alam, menetapkan prioritas, serta menjalankan tanggung jawab secara konsisten, bahkan setelah api padam.

Julukan zamrud khatulistiwa semestinya bukan sekadar bahan promosi pariwisata. Sebagai label yang mengandung apresiasi sekaligus ekspektasi, julukan ini membawa tanggung jawab untuk menjaga kekayaan ekologis bagi generasi berikutnya. Hutan tidak cukup dipuji dalam pidato, sementara kehancurannya akibat eksploitasi yang brutal terus menjadi berita.

Jadi, apakah kita perlu bangga jika karhutla suatu hari masuk kamus bahasa dunia?

Dari sisi bahasa, tentu menarik jika istilah dari Indonesia dikenal masyarakat internasional. Namun, popularitas sebuah kata tidak selalu menandakan prestasi. Ada kata yang mendunia karena keindahan budaya, ada pula yang dikenal karena bencana yang terus berulang.

Kita boleh mewariskan bahasa kepada dunia. Kita juga patut bangga ketika kekayaan budaya Nusantara mendapat tempat dalam pergaulan internasional. Namun, jangan sampai kita mewariskan bencana kepada generasi berikutnya.

Indonesia tidak pernah kekurangan kata dan data untuk menjelaskan kebakaran hutan dan lahan, tetapi masih perlu bekerja lebih keras agar kebakaran ini tidak terus berulang.*

Exit mobile version