Kolase.id – Pengelolaan sampah plastik di Kota Pontianak mendapat dorongan baru melalui pendekatan ekonomi sirkular. PT PLN (Persero), melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN Peduli PRASASTI SOLUSI (Program Pengolahan Sampah Plastik dan Sirkular Ekonomi Olahan Sampah Terintegrasi), mampu mengelola hingga 1 ton botol plastik setiap hari.
Data Pemerintah Kota Pontianak mencatat timbulan sampah pernah mencapai sekitar 400 ton per hari, dengan sekitar 17 persen di antaranya berupa sampah plastik. Angka tersebut setara dengan sekitar 68 ton sampah plastik setiap hari. Dibandingkan baseline tersebut, kemampuan PRASASTI SOLUSI mengelola 1 ton botol plastik per hari setara sekitar 1,47 persen dari timbulan sampah plastik harian.
Jika kemampuan tersebut berjalan konsisten sepanjang tahun, sekitar 365 ton botol plastik berpotensi masuk ke rantai pengelolaan dan pemanfaatan kembali. Angka tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan sampah berbasis masyarakat dapat memberikan kontribusi terukur sekaligus membuka peluang terciptanya nilai ekonomi dari material yang sebelumnya dibuang.
PRASASTI SOLUSI dijalankan melalui kolaborasi PLN Peduli bersama Bank Sampah Unit Permata, Bank Sampah Induk Khatulistiwa, Dinas Lingkungan Hidup Kota Pontianak, serta masyarakat sekitar.
Kolaborasi tersebut menghubungkan proses pemilahan dan pengumpulan dari masyarakat dengan pengolahan dan pemanfaatan kembali sampah dalam ekosistem ekonomi sirkular.
Perwakilan Bank Sampah Unit Permata sekaligus penerima manfaat, Syamsul Arifin, mengatakan kemampuan mengelola sampah plastik dalam jumlah lebih besar membuka peluang untuk meningkatkan manfaat lingkungan maupun ekonomi bagi masyarakat.
“Satu ton botol plastik per hari bukan hanya berbicara tentang jumlah sampah yang dapat kami kelola. Di balik angka tersebut ada sampah yang tidak lagi sekadar dibuang, tetapi dapat masuk kembali ke rantai pengolahan dan memiliki nilai. Semakin banyak masyarakat yang ikut memilah, semakin besar pula manfaat yang dapat kita hasilkan bersama,” ujar Syamsul.
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 Dinas Lingkungan Hidup Kota Pontianak, Gulzar, S.T., mengatakan pengurangan sampah dari sumber membutuhkan keterlibatan masyarakat, bank sampah, pemerintah, serta dunia usaha.
“Timbulan sampah menjadi tantangan yang harus ditangani bersama. Kehadiran program yang memperkuat pemilahan dan pengelolaan dari tingkat masyarakat menjadi bagian penting dalam mengurangi sampah yang berakhir di tempat pemrosesan akhir. Kolaborasi seperti ini perlu terus diperkuat agar pengelolaan sampah dapat berkembang secara berkelanjutan,” ujar Gulzar.
General Manager PLN Unit Induk Pembangunan Kalimantan Bagian Barat, Susilo, mengatakan capaian tersebut menunjukkan bahwa program lingkungan dapat menghasilkan dampak yang terukur ketika dibangun melalui kolaborasi dan keterlibatan masyarakat.
“Melalui PRASASTI SOLUSI, kami ingin menghadirkan program yang manfaatnya dapat terus tumbuh. Ketika satu ton botol plastik setiap hari dapat masuk kembali ke rantai pengelolaan, kita bukan hanya mengurangi sampah, tetapi juga menjaga material tersebut tetap memiliki nilai dalam siklus ekonomi. Inilah semangat ekonomi sirkular yang ingin kami bangun bersama masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan,” tutur Susilo.
Urgensi pengelolaan sampah juga semakin besar seiring meningkatnya timbulan sampah kota. Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) tahun 2025 yang dikutip Pemerintah Kota Pontianak, total timbulan sampah Kota Pontianak mencapai 480,213 ton per hari, dengan tingkat pengurangan sebesar 18,87 persen. Kondisi tersebut semakin menegaskan pentingnya pengelolaan sampah dari sumber serta penguatan peran bank sampah di tengah masyarakat.
Melalui PRASASTI SOLUSI, PLN Peduli mendorong sampah plastik untuk tidak berhenti sebagai limbah, tetapi kembali masuk dalam rantai pemanfaatan yang memiliki nilai. Dengan kemampuan pengelolaan hingga 1 ton botol plastik per hari, program ini menjadi salah satu langkah konkret untuk memperkuat ekonomi sirkular sekaligus berkontribusi terhadap upaya pengurangan sampah di Kota Pontianak.*
