Pokmas Wahana Bahari Kukuhkan Komitmen Menjaga Penyu Paloh dari Camp Sungai Belacan

Sengketa Lahan Sungai Belacan Mengusik Camp Konservasi Penyu

Camp Konservasi Penyu Sungai Belacan di Desa Sebubus, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, menjadi titik penting bagi Pokmas Wahana Bahari dalam menjaga habitat peneluran penyu dan ekosistem pesisir. Foto: Dok. Gempur Kalimantan

Kolase.id — Malam merambat turun di Pantai Sungai Belacan, Desa Sebubus, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas. Laut terbentang gelap gulita tanpa bias cahaya. Hanya deburan ombak yang berkejaran membawa angin malam, sementara hamparan pasir menyimpan sunyi sekaligus riwayat kehidupan purba yang datang dari kedalaman samudra.

Dari balik buih gelombang, seekor penyu perlahan merayap naik. Tubuhnya menyeret pasir, meninggalkan alur panjang di belakangnya. Ia sempat terhenti beberapa kali, memandang sekitar, memastikan malam itu aman untuk melanjutkan misi sucinya.

Tiba di gundukan yang pas, ia mulai mengepakkan siripnya, menghamburkan butiran pasir ke udara. Lubang perlahan tercipta. Di kedalaman yang dirasa cukup, ia mulai menumpahkan harapan baru. Butir-butir telur dijatuhkan satu demi satu.

Tak jauh dari sana, mata anggota Kelompok Masyarakat (Pokmas) Wahana Bahari mengawasi dari kejauhan. Mereka tahu persis batasan.

Sebab, menjaga penyu terkadang menuntut seni untuk tidak berbuat apa-apa. Cukup berdiri di bayang-bayang, memastikan tak ada tangan usil yang merusak proses alamiah itu. Di garis pantai ini, malam-malam panjang semacam itu sudah menjadi denyut nadi keseharian mereka.

Namun, di balik ritme alam yang tenang itu, gelisah tengah mencuat. Ketua Pokmas Wahana Bahari, Zulfian, memilih tetap siaga di camp yang menjadi jantung operasional kelompoknya.

“Tetap berada di sini berarti tetap menjalankan tanggung jawab yang sudah kami pilih bersama. Camp Sungai Belacan memberikan keteduhan dalam beraktivitas dan pantainya merupakan bagian penting dari habitat penyu,” ujar Zulfian di Camp Pantai Sungai Belacan, Selasa (29/9/2026).

Bagi Zulfian, merawat pantai tidak berhenti sebatas menyambut kedatangan penyu. Pengabdian ini menuntut kehadiran penuh sebelum satwa itu merapat.

Mereka harus memastikan pesisir tetap steril saat telur-telur itu ditanam. Dan ketika sang penyu kembali menghilang ke laut lepas, tugas belum usai. Mereka harus memastikan garis pantai tetap aman dan layak bagi generasi penyu berikutnya pada malam-malam yang akan datang.

Malam-Malam Panjang di Pantai Penyu

Langkah Wahana Bahari sebagai kelompok resmi bermula pada 2016. Namun, jejak kaki sejumlah anggotanya dalam merawat penyu telah tertanam jauh lebih lama, yakni sejak 2011. Selama lebih dari satu dekade, mereka mendedikasikan diri di Kawasan Konservasi Perairan, Pesisir, dan Pulau-Pulau Kecil (KKP3K) Taman Pesisir Paloh.

Di hamparan pesisir inilah mereka mendarmabaktikan hari-hari. Memantau dan mendata populasi penyu, mengamankan titik-titik peneluran, sekaligus berhadapan langsung dengan pelbagai ancaman ekologis.

Mulai dari bayang-bayang perburuan telur, ancaman kehilangan vegetasi pantai, hingga terjangan sampah laut yang tak ada habisnya. Karena itulah, tugas mereka tidak serta-merta rampung begitu seekor penyu membalikkan badan ke laut lepas.

Mereka harus memastikan butir-butir telur aman terkubur di dalam kehangatan pasir. Lebih dari itu, mereka harus menjaga agar garis pantai tetap steril dari alih fungsi dan kerusakan. Zulfian telah menyaksikan siklus abadi ini berulang kali.

Exit mobile version