Pokmas Wahana Bahari Kukuhkan Komitmen Menjaga Penyu Paloh dari Camp Sungai Belacan

Sengketa Lahan Sungai Belacan Mengusik Camp Konservasi Penyu

Camp Konservasi Penyu Sungai Belacan di Desa Sebubus, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, menjadi titik penting bagi Pokmas Wahana Bahari dalam menjaga habitat peneluran penyu dan ekosistem pesisir. Foto: Dok. Gempur Kalimantan

Zulfian sangat memahami taruhan di lapangan tersebut. “Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi yang berkelanjutan, terutama untuk monitoring dan pengamanan kawasan,” ujarnya.

Kesadaran itulah yang mendorong Wahana Bahari merajut kemandirian lewat unit-unit usaha ekonomi. Mereka mengembangkan budidaya madu kelulut, mengelola paket wisata edukasi, hingga merintis peternakan kambing.

Inisiatif ini bukan sekadar mengejar pundi-pundi pendapatan. Wahana Bahari merancangnya sebagai fondasi untuk membangun ketahanan ekonomi anggotanya secara kolektif.

Logika dasarnya amat sederhana. Tatkala masyarakat mampu mencukupi penghidupannya dari ruang yang tidak merusak alam, maka bumi memiliki sekian banyak alasan untuk terus diselamatkan.

Ketika warga sekitar merasakan langsung buah manis dari kawasan yang terawat, konservasi pun bertransformasi. Ia bukan lagi sekadar beban satu kelompok, melainkan denyut kebanggaan bersama.

Sepuluh Tahun dan Satu Harapan

Bagi Zulfian, obrolan tentang pelestarian tidak pernah sebatas merayakan malam ketika seekor penyu merapat ke Pantai Sungai Belacan. Pandangannya membentang jauh ke depan.

Satu dekade mendatang, ia memimpikan pantai itu tetap menjadi rumah yang aman bagi penyu untuk bertelur, dengan ekosistem pesisir yang utuh, dan garis pantai yang senantiasa bersih.

Namun, di balik optimisme itu, tersimpan satu kegelisahan mendalam. Siapa yang akan estafet memikul beban ini ketika generasi penjaga saat ini tak lagi berada di tempat?

“Jangan sampai kegiatan menjaga penyu hanya berhenti pada generasi kami. Harus ada orang-orang yang melanjutkan pekerjaan ini setelah kami,” ujarnya.

Kesadaran itulah yang mendorong Wahana Bahari aktif membentangkan jalan bagi keterlibatan generasi muda. Mereka merangkul masyarakat luas, pemerintah, sesama pegiat konservasi, sektor swasta, hingga berbagai elemen untuk melihat penyu sebagai bagian tak terpisahkan dari denyut hidup pesisir.

Zulfian menolak sikap apatis yang baru tersadar ketika bencana ekologis sudah di ambang mata. “Jangan menunggu penyu semakin sedikit baru kita bergerak. Kita harus menjaga habitatnya mulai sekarang,” tegasnya.

Bagi Wahana Bahari, mendarmabaktikan diri untuk penyu jauh melampaui urusan menyelamatkan satu jenis satwa. Di garis pantai yang sama, mereka merawat hutan, membersihkan tumpukan sampah, dan menghidupkan ruang-ruang edukasi publik.

Dalam tarikan napas yang sama, mereka mengikhtiarkan kesejahteraan warga agar denyut ekonomi masyarakat mampu berjalan seirama dan berdampingan dengan kelestarian alam.

Sebab, seluruh kerja sunyi di pesisir Sambas itu pada akhirnya bermuara pada satu cita-cita luhur. Masyarakat yang berdaya, dan alam yang tetap lestari sepanjang masa.

Ketika Laut Kembali Gelap

Malam terus merangkak larut. Penyu yang tadi merapat ke daratan telah menuntaskan tugas sucinya. Usai merapikan dan menimbun kembali lubang pasir tempat ia menitipkan harapan, satwa purba itu perlahan membalikkan tubuh, menyeret siripnya kembali ke pelukan samudra.

Seekor penyu hijau baru saja menyelesaikan proses bertelur di Pantai Sungai Belacan, Paloh. Setelah meninggalkan telur di dalam pasir, ia bersiap kembali ke laut—melanjutkan siklus kehidupan di pesisir yang terus dijaga. Foto: Andi Fachrizal/Kolase.id

Alur jejak yang ia tinggalkan di pasir perlahan disapu ombak, terhapus sedikit demi sedikit hingga laut kembali menelan wujudnya. Pantai pun kembali sunyi, terlelap dalam gulita.

Namun, barisan anggota Wahana Bahari tak beranjak dari posisinya. Bagi kebanyakan orang, malam telah usai dan saatnya lelap. Namun bagi mereka, tugas-tugas sunyi justru terus berlanjut tanpa jeda.

Mereka tak pernah bisa memastikan kapan penyu berikutnya akan muncul dari balik gulungan ombak. Yang mereka pegang teguh hanya satu. Tatkala satwa itu mendarat, pesisir ini harus selalu siap dan aman.

Terlebih, di tengah bayang-bayang sengketa lahan yang mendera camp mereka hari ini, ada ruang hidup yang harus mati-matian dipertahankan demi menjaga denyut kerja di lapangan.

Zulfian menegaskan komitmen itu dengan kepala tegak. Wahana Bahari tidak akan mundur dari Camp Sungai Belacan.

“Bersama kawan-kawan, kami akan tetap di camp ini, terus menjaga Pantai Sungai Belacan agar penyu yang datang dapat bertelur dengan nyaman dan siklus kehidupannya terus berlangsung,” ujarnya.

Pada akhirnya, di garis pantai Sungai Belacan ini, kerja-kerja konservasi bukan lagi sekadar urusan satu malam, satu ekor satwa, atau satu kelompok masyarakat semata.

Ia tumbuh dari konsistensi untuk terus hadir dari orang-orang yang memilih tetap berjaga tatkala dunia sekitarnya terlelap.

Dari sepasang tangan yang memungut sampah, mata yang awas memantau bayangan di ombak, hingga jejak kaki yang tak pernah lelah kembali ke pasir pantai.

Sebab, ketika suatu hari nanti penyu-penyu itu kembali dari kedalaman laut dan memilih pasir Pantai Sungai Belacan untuk meneruskan generasi, Wahana Bahari ingin memastikan satu hal: Rumah itu masih ada, dan pantai itu tetap aman untuk kehidupan.*

Exit mobile version