Surat Terbuka untuk Presiden Prabowo: Jangan Hanya Memadamkan Api

Oleh M. Hermayani Putera

Kebakaran lahan yang terjadi di Kalbar Februari 2026 lalu. Foto: Dok. WALHI Kalbar

Yth. Bapak Presiden Prabowo Subianto

Sabtu, 22 Agustus 2026, Bapak datang ke Kalimantan. Melihat langsung karhutla di Kalimantan Barat, lalu melanjutkan perjalanan ke Kalimantan Tengah.

Bagi kami yang tinggal di sini, kehadiran Bapak tentu memberi pesan penting: persoalan karhutla tidak boleh dianggap remeh.

Kami berterima kasih untuk itu.

Tetapi izinkan saya menyampaikan sedikit kegelisahan dari bumi khatulistiwa ini.
Setiap kali hutan dan lahan terbakar, perhatian kita hampir selalu tertuju pada api. Asap membumbung, petugas bergerak, pompa dan helikopter dikerahkan, modifikasi cuaca dilakukan. Kita pun sibuk mencari jawaban: siapa yang membakar?

Pertanyaan itu penting.

Tetapi mungkin ada pertanyaan lain yang lebih mendasar:
Mengapa lanskap Kalbar, bahkan banyak bagian Kalimantan, menjadi begitu mudah terbakar?

Api sering kali menjadi bagian paling terlihat dari persoalan yang sudah berlangsung jauh sebelumnya. Kita melihat nyalanya, tetapi tidak selalu melihat apa yang membuatnya mudah menyebar.
Kita melihat hutan dan lahan yang terbakar, tetapi lupa bertanya: Ke mana perginya air?

Hutan yang sehat bukan sekadar kumpulan pohon. Ia menyimpan air, menjaga kelembaban, meredam panas, menghidupkan sungai, dan menjadi rumah bagi banyak makhluk—termasuk orangutan, _Man of the Forest_, sang penabur benih sejati yang sejak lama melakukan restorasi tanpa rapat koordinasi, proposal, ataupun anggaran.

Ketika keseimbangan itu terganggu — kanal dibuka, gambut dikeringkan, hutan berkurang, kawasan penyangga sungai menyempit—lanskap perlahan kehilangan daya tahannya.

Kemudian kemarau datang.

Tanah mengering. Vegetasi menjadi bahan bakar. Percikan kecil pun bisa berubah menjadi bencana. Barulah kita datang membawa pompa dan mesin pemadam.

Api memang harus dipadamkan. Tetapi, Pak Presiden, jangan sampai seluruh energi kita habis untuk memadamkan sesuatu yang sejak awal kita biarkan menjadi mudah terbakar.

Karhutla bukan hanya persoalan api. Ia juga persoalan air, tata ruang, pembukaan lahan, investasi, pengawasan, dan pilihan hidup masyarakat.

Barangkali, keberhasilan tidak cukup diukur dari berapa hektare yang berhasil dipadamkan. Ada ukuran lain yang lebih sunyi, namun tetap bekerja dalam hening: sumber air yang terjaga, gambut yang tetap basah, hutan yang tidak jadi dibuka, desa yang mampu mencegah api, dan masyarakat yang bisa mengelola lahannya tanpa harus selalu menggunakan api.

Keberhasilan terbaik dalam menghadapi karhutla justru ketika kita tidak perlu memadamkan apa-apa.

Kita juga perlu adil kepada masyarakat.

Tidak semua pembakaran lahir dari niat merusak. Ada tradisi, keterbatasan alat, kebutuhan ekonomi, dan kebiasaan menggunakan cara yang paling murah untuk membuka lahan.

Pak Presiden, sekadar mengatakan “jangan membakar” saja tidak cukup.

Masyarakat harus diberi pilihan yang masuk akal: cara membuka lahan tanpa bakar yang terjangkau, pemanfaatan biomassa, agroforestri atau tembawang dalam tradisi kami, serta paludikultur di kawasan yang sesuai.

Sederhananya, gambut tidak perlu dipaksa menjadi lahan kering. Ia bisa tetap basah dan produktif, dengan tanaman yang memang cocok tumbuh di dalamnya.

Tentu, semua itu membutuhkan peralatan sederhana dan pendampingan para penyuluh serta tenaga lapang yang sungguh-sungguh dan intensif.

Menjaga lingkungan tidak boleh menjadi kemewahan.

Namun, penghormatan kepada masyarakat dan masyarakat adat juga perlu berjalan bersama dengan upaya menjaga keselamatan lingkungan dan ruang hidup bersama. Begitu pula dengan kearifan lokal. Kita patut menghargai pengetahuan yang tumbuh dari pengalaman panjang masyarakat dalam membaca alam, mengelola lahan, dan menjaga keseimbangan kehidupan di sekitarnya.

Kearifan juga mengajarkan tentang batas: kapan lahan aman dikelola, kapan kondisi alam sedang terlalu kering atau menghadapi tekanan iklim ekstrem seperti El Niño yang kita rasakan sekarang, bagaimana api dikendalikan, dan bagaimana memastikan apa yang kita lakukan tidak membawa dampak buruk bagi ruang hidup orang lain.

Kearifan bukan hanya warisan masa lalu. Ia juga kemampuan untuk membaca perubahan, menyesuaikan diri, dan menjaga agar kehidupan hari ini tetap bisa diwariskan kepada generasi berikutnya.

Hal yang sama berlaku bagi dunia usaha.

Perusahaan tentu perlu memiliki regu pemadam, pompa, menara pemantau, dan peralatan tanggap darurat. Tetapi tanggung jawab tidak boleh berhenti pada kesiapan menghadapi api.

Yang jauh lebih penting adalah memastikan tata air tetap terjaga, kawasan ekologis penting dipertahankan, pembukaan lahan dilakukan dengan kehati-hatian, dan masyarakat di sekitar konsesi dilibatkan secara bermakna.

Dan ketika kebakaran berulang terjadi di tempat yang sama, jangan hanya sibuk mencari siapa yang menyalakan api. Sesekali, kita perlu melihat ke sekeliling dan bertanya:

Apa yang membuat kawasan itu begitu mudah terbakar?

Tanyakan juga mengapa kawasan itu begitu mudah terbakar.

Pembangunan memerlukan investasi. Masyarakat mendambakan pekerjaan. Daerah membutuhkan pertumbuhan ekonomi. Dan kita tentu menginginkan semuanya berjalan bersama.

Tetapi jangan sampai keuntungan dinikmati hari ini, sementara kerusakan hutan, gambut, air dan udara menjadi tagihan yang diwariskan kepada masyarakat dan generasi yang belum lahir.

Pak Presiden,

Bapak datang melihat api di Kalbar. Mudah-mudahan setelah api padam, perhatian kita tidak ikut padam.

Ada satu hal kecil yang juga mengganjal saya ketika melihat Bapak dan rombongan turun langsung ke lokasi kebakaran: mengapa tidak memakai masker?

Mungkin terlihat sepele. Tetapi di tengah asap dan ancaman partikel halus yang membahayakan kesehatan, keteladanan kecil juga penting. Kalau masyarakat diminta melindungi diri dari asap, bukankah para pemimpinnya juga perlu menunjukkan hal yang sama?

Turun melihat api tentu perlu. Tetapi keselamatan manusia jangan sampai ikut terbakar.

Api harus kita padamkan. Tetapi yang lebih penting, lanskapnya jangan kita biarkan kehilangan daya tahan.

Jaga airnya. Lindungi hutannya. Rawat gambutnya. Dampingi masyarakatnya. Pastikan investasinya bertanggung jawab. Tegakkan hukumnya.

Kalau kita hanya mengejar api, kita akan selalu berlari di belakang.

Tetapi kalau sejak awal kita menjaga air, hutan, tanah dan kehidupan yang bergantung padanya, barangkali kita tidak perlu sesering itu berlari mengejar api.

Dan mungkin suatu sore, di bumi khatulistiwa ini, kita bisa duduk minum kopi dengan tenang.

Tidak mencium asap.

Tidak melihat langit berubah kelabu.

Hanya ngobrol ngalor-ngidul sambil memandang hutan yang masih berdiri, gambut yang masih basah, dan sungai yang masih mengalir.

Semoga kita belum terlambat.
Jangan sampai, seperti kata orang tua, kita baru tengadah setelah terantuk.

Salam Hangat dari Kalimantan Barat

Pontianak, 23 Agustus 2026

Exit mobile version