Kolase.id – Suasana penuh kekeluargaan menyelimuti Kampung Yuka, Kelurahan Sungai Beliung, Kecamatan Pontianak Barat. Beralaskan tikar di atas geretak —jembatan kayu kecil di tepian sungai —warga duduk bersaprahan menikmati sajian tradisional ketupat colet dalam perayaan tradisi Robo-Robo, Rabu (12/8/2026).
Kesederhanaan acara justru menjadi kekuatan utama dari warisan budaya yang terus dijaga secara turun-temurun ini. Bagi warga setempat, Robo-Robo adalah momentum yang selalu dinantikan untuk mempererat silaturahmi sekaligus mempertahankan identitas kampung.
Ketua RT Budi Hermanto menegaskan pentingnya kekompakan warga dalam menjaga kebudayaan lokal. “Memang setiap tahun kampung kita kompak mengadakan ini. Menjaga budaya bersama dan memeriahkan kampung,” kata Budi.
Menghidupkan Kembali Tradisi dan Keterkaitan Sejarah Batulayang
Ketua Panitia Robo-Robo Kompleks Yuka Oni Burhan menjelaskan, tradisi ini telah rutin digelar sejak 2011, meski sempat terhenti pada 2019 akibat pandemi COVID-19. Pada perhelatan tahun 2026, masyarakat kembali menghidupkan kemeriahan tersebut dengan menyajikan rangkaian perlombaan khas, seperti lomba sampan bidar.
“Kalau untuk pesisir ini kami adakan memang prioritas paling utama karena berada di tepian sungai. Lokasi dan momen ini sangat bagus karena berhadapan langsung dengan Makam Kesultanan Pontianak di Batulayang,” ujar Oni.
Menurut Oni, sungai merupakan bagian mendasar dari identitas masyarakat Pontianak yang mempertemukan tradisi, olahraga, rekreasi, dan interaksi sosial.
“Sungai ini merupakan identitas kita. Berkumpul bersama sambil menikmati hidangan tradisional sekaligus memandang kawasan Batulayang yang memiliki keterkaitan dengan sejarah Kesultanan Pontianak,” tambah Oni.
Nilai Tradisi dan Potensi Community-Based Tourism
Sisi pariwisata dan makna mendalam dari tradisi ini turut disoroti oleh Sukardi dari Gaharu Kalbar. Menurutnya, perayaan Robo-Robo menyimpan nilai spiritual dan sosial yang tinggi serta berpotensi besar menjadi daya tarik wisata berbasis masyarakat.
“Kegiatan Robo-Robo di Kampung Yuka tidak hanya menjadi bagian dari pelestarian tradisi dan budaya masyarakat, tetapi juga mengandung nilai-nilai penting seperti rasa syukur, doa keselamatan, kebersamaan, gotong royong, penghormatan terhadap tradisi leluhur, serta mempererat silaturahmi antarwarga,” kata Sukardi.
Bagi Sukardi, tradisi ini menjadi momentum bagi masyarakat untuk berkumpul, berbagi, dan menjaga identitas budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Sukardi menambahkan bahwa dengan pengelolaan yang tepat, keunikan tradisi ini dapat memberikan dampak ekonomi nyata bagi warga lokal.
Dalam perspektif pariwisata, kata Sukardi, Robo-Robo memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai wisata budaya berbasis masyarakat (community-based tourism). Keunikan tradisi, rangkaian kegiatan, kuliner khas, seni budaya, serta suasana Kampung Yuka dapat menjadi pengalaman menarik bagi wisatawan yang ingin mengenal kehidupan dan budaya lokal secara lebih dekat.
“Dengan pengelolaan yang baik dan tetap menjaga nilai kesakralan serta keaslian tradisi, Robo-Robo Kampung Yuka dapat menjadi daya tarik wisata yang sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat, mendorong tumbuhnya UMKM dan ekonomi kreatif,” jelas Sukardi.
Dorongan dan Dukungan dari Pemkot Pontianak
Melihat antusiasme warga, Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kota Pontianak, Rizal, menilai perayaan di Kompleks Yuka memiliki modal penting berupa tradisi, kekompakan, serta lokasi yang berkarakter khas.
“Tradisi ini harus terus dilaksanakan, dikemas, dan ditampilkan dengan konsep-konsep yang lebih eksotis sehingga memiliki ruang di hati masyarakat Kota Pontianak,” ujar Rizal.
Ia menambahkan, perpaduan antara tradisi dan olahraga air seperti sampan bidar menjadi contoh baik dalam pengembangan acara tanpa merusak nilai aslinya. “Lomba sampan bidar yang digelar dalam rangkaian kegiatan menjadi salah satu contoh bagaimana tradisi dapat dikembangkan menjadi kegiatan yang lebih menarik tanpa menghilangkan akar budayanya,” kata Rizal.
Meski belum masuk dalam calendar of event resmi Kota Pontianak, Pemerintah Kota membuka peluang besar untuk memasukkannya ke dalam agenda wisata daerah di masa mendatang.
“Kita berharap tahun depan kegiatan ini bisa dikemas lebih spesifik sehingga semakin banyak tamu yang hadir dan berkunjung ke sini,” lanjut Rizal.
Estafet Generasi dan Harapan Dukungan Fasilitas
Keberlanjutan tradisi Robo-Robo di Kampung Yuka juga bertumpu pada pelibatan generasi muda. Sejak tahap persiapan, tokoh masyarakat, ketua RW, ketua RT, kader PKK, posyandu, hingga kelompok remaja bahu-membahu menyukseskan acara.
Oni menekankan pentingnya mengenalkan budaya ini sejak dini. “Mulai dari anak kecil hingga orang tua, kami ajak dan dilibatkan dalam tradisi ini, agar mereka mengenal dan terus menjaga,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Budi Hermanto mengenai regenerasi kepanitiaan. “Kami berdayakan anak-anak remaja untuk kegiatan kepanitiaan supaya mereka menjadi penerus kami yang tua-tua,” kata Budi.
Agar tradisi ini berjalan lebih maksimal di tahun-tahun mendatang, Oni berharap adanya perhatian dan pembenahan infrastruktur dari pemerintah kota. “Mendesak perlu dibenahi itu fasilitas, seperti pendopo, geretak, dan menyediakan panggung untuk pentas pada acara budaya ke depannya,” tutur Oni.
Menanggapi hal tersebut, Pemkot Pontianak mendorong seluruh unsur masyarakat dan panitia untuk mulai merencanakan kegiatan sejak jauh hari agar dukungan anggaran dan fasilitasi dari pemerintah dapat disiapkan secara matang untuk perhelatan tahun berikutnya.*
