Maulid di Tengah Asap: Belajar Rahmah dan Akhlak Ekologis dari Rasulullah

Oleh M. Hermayani Putera

Kebakaran lahan yang terjadi di Kalbar Februari 2026 lalu. Foto: Dok. WALHI Kalbar

ADA sesuatu yang terasa berbeda pada Maulid Nabi tahun ini. Di banyak tempat kita bershalawat, membaca sirah, dan mengingat kelahiran Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Tetapi pada saat yang sama, Kalimantan sedang tidak baik-baik saja.

Api membakar hutan dan lahan. Asap menggantung di udara. Napas menjadi lebih pendek. Mata perih. Anak-anak, orang tua, para pemadam, dan mereka yang bekerja di lapangan harus menghirup udara yang semestinya menjadi hak semua makhluk: udara yang bersih.

Ada kontras di sini. Di satu sisi kita memperingati kelahiran manusia paling mulia pilihan Allah, yang diutus membawa rahmah bagi seluruh alam, sementara sebagian alam yang menjadi tempat kita hidup sedang terluka akibat api yang membara.

Maulid tahun ini mengajak kita memaknai kembali kehadiran Nabi. Bukan sekadar mengingat kelahiran beliau, tetapi juga mengingat akhlaknya.

Mencintai Rasulullah tentu bukan sekadar menyebut namanya. Kita perlu bercermin: sudahkah rahmah yang beliau ajarkan hadir dalam cara kita memperlakukan bumi dan seluruh makhluk di atasnya?

Saat kecil, Rasulullah pernah menjadi penggembala. Sekilas pekerjaan sederhana, tetapi menyimpan pelajaran yang dalam. Seorang penggembala harus memperhatikan hewan yang dipercayakan kepadanya: kapan mencari air, kapan mencari rumput, kapan berjalan, dan kapan berhenti.

Dari kisah masa kecil Nabi ini kita belajar: merawat itu berbeda dengan menguasai.

Ketika dewasa, beliau dikenal sebagai Al-Amin, orang yang dapat dipercaya. Setelah menerima amanah kenabian, tanggung jawab itu pun menjadi semakin luas. Bukan hanya kepada manusia, tetapi kepada kehidupan yang Allah titipkan di sekitarnya.

Rasulullah bersabda bahwa seorang Muslim yang menanam tanaman, lalu dimakan manusia, burung, atau hewan, maka apa yang dimakan itu menjadi sedekah baginya. (HR. Bukhari dan Muslim).

Ada pesan yang saya suka dari hadis ini. Pohon tidak berhenti sebagai pohon. Buahnya dimakan, teduhnya dinikmati, dan keberadaannya memberi tempat hidup bagi makhluk lain. Bahkan manfaat yang mungkin tak pernah kita lihat tetap menjadi kebaikan.

Durian yang kita nikmati hari ini, misalnya. Bisa jadi pohonnya ditanam oleh orang tua atau kakek-nenek kita. Mereka yang menanam, kita yang menikmati.

Begitulah seharusnya kita memperlakukan bumi. Tidak semua yang kita tanam harus kita nikmati sendiri.

Rasulullah juga menetapkan Madinah sebagai kawasan yang dilindungi. Pepohonan di dalamnya tidak boleh ditebang sembarangan dan satwa tidak boleh diburu. Dalam tradisi Islam, kawasan yang dilindungi seperti ini dikenal dengan konsep hima’.

Jauh sebelum istilah konservasi menjadi bagian dari percakapan kita, Rasulullah telah mengajarkan satu sikap penting: ada ruang yang memang harus dibiarkan hidup. Tidak semuanya harus dihitung dari berapa besar keuntungan yang bisa diambil.

Dalam perjalanan pun beliau mengingatkan para sahabat untuk memperhatikan kebutuhan hewan tunggangan. Jika melewati tempat yang subur, beri kesempatan hewan untuk makan. Jika melewati tempat tandus, jangan terlalu lama membebaninya.

Unta bukan sekadar alat untuk membawa manusia sampai ke tujuan. Makhluk ini punya kebutuhan, punya batas, dan layak diperlakukan dengan baik.

Rahmah menemukan bentuknya ketika kita tidak lagi melihat kehidupan hanya dari manfaatnya bagi kita.

Rasulullah juga pernah menceritakan, dalam riwayat Abu Hurairah yang dicatat oleh Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim, tentang seorang perempuan pezina dari Bani Israil yang melihat seekor anjing kehausan di dekat sumur. Ia mengambil air dan memberikannya kepada anjing itu. Karena kebaikan tersebut, Allah mengampuni dosanya.

Dalam hadis lain yang diriwayatkan Abdullah bin Umar dan Abu Hurairah, serta dicatat dalam Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim, Rasulullah menceritakan seorang perempuan yang mendapat azab karena mengurung seekor kucing hingga mati. Kucing itu tidak diberi makan atau minum, juga tidak dilepaskan untuk mencari makanan.

Kita mungkin terbiasa membacanya sebagai kisah tentang pahala dan dosa. Namun, kalau direnungkan, Rasulullah sedang mengajarkan sesuatu yang lebih dalam: menghargai kehidupan, bukan hanya ketika ia berguna bagi kita.

Lalu kita melihat Kalimantan hari ini. Ketika hutan terbakar, yang kehilangan rumah dan ruang hidup bukan hanya manusia. Burung kehilangan sarang. Satwa kehilangan tempat berlindung dan sumber makanan. Serangga pun ikut mati. Pohon yang puluhan tahun tumbuh, habis dalam hitungan jam.

Dan asapnya kembali kepada kita.
Masuk ke rumah, sekolah, kantor, masjid, bahkan ke paru-paru kita.

Karhutla memang persoalan yang rumit. Ada tata kelola lahan, kebijakan, kepentingan ekonomi, perilaku manusia, kondisi cuaca, dan banyak hal yang saling berkelindan. Tetapi kerumitan itu jangan sampai membuat kita lupa pada satu hal yang paling mendasar: manusia tetap punya tanggung jawab untuk tidak merusak.

Maulid di tengah asap semestinya membuat kita sedikit gelisah. Jangan-jangan kita terlalu sering mengatakan mencintai Nabi, sementara sebagian akhlak beliau belum sungguh-sungguh hadir dalam cara kita memperlakukan bumi.

Kalau Rasulullah adalah rahmat bagi alam semesta, cinta kepada beliau semestinya mengubah cara kita memperlakukan kehidupan. Itu bisa dimulai dari cara kita menggunakan air, memperlakukan tanah, menjaga pohon dan satwa, sampai berani mencegah kerusakan. Kalau bisa, kita tinggalkan sesuatu yang baik untuk mereka yang datang setelah kita.

Bumi ini milik Allah. Kita hanya diberi amanah untuk memanfaatkannya, merawatnya, dan menjaganya. Suatu hari, amanah itu harus kita kembalikan.

Ketika bershalawat tahun ini, sesekali kita perlu melihat ke luar jendela. Jika masih ada asap, apa yang bisa kita lakukan agar udara kembali menjadi hak semua orang Ketika hutan terbakar, apa yang bisa kita lakukan agar kehidupan di dalamnya tidak terus hilang?

Semoga pertanyaan-pertanyaan itu mengetuk nurani kita, lalu pelan-pelan mengubah cara kita memperlakukan bumi. Begitulah cara kita menghidupkan Maulid: dari shalawat ke tindakan, dari kecintaan ke keteladanan, dari mengingat Nabi ke belajar berakhlak seperti Nabi.

Maka, cinta yang tidak diwujudkan dalam laku mudah berhenti sebagai kata-kata.

Semoga shalawat yang kita lantunkan tahun ini tidak berhenti di bibir, tetapi sampai ke tangan, kaki, dan keputusan-keputusan kecil kita dalam merawat kehidupan.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad.

Exit mobile version