Kolase.id — Tim Gempur Kalimantan bikin kejutan di perbatasan Indonesia–Malaysia di Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Dobrakan perdana di beranda terdepan NKRI ini membawa misi penanaman pohon produktif pada 28-30 September 2026. Tak tanggung, tim ini menghadirkan 644 bibit pohon dalam aksi bertajuk “Gempur Batas Negeri”.
Aksi lingkungan yang berlangsung pada 28–30 September 2026 ini menyasar sejumlah titik strategis di Desa Temajuk dan Desa Sebubus.
Lokasi penanaman meliputi lahan kelompok masyarakat dampingan KPH Sambas di Dusun Maludin, kawasan Sungai Belacan, area sekitar Pos Pengamanan Perbatasan (Pamtas) TNI AD, serta wilayah Hutan Tanaman Rakyat (HTR) Prasak, Desa Sebubus.
Pembina Gempur Kalimantan, Albertus Tjiu, mengungkapkan bahwa kegiatan ini tidak sekadar mengejar target kuantitas pohon yang ditanam. Menurutnya, gerakan pelestarian di kawasan perbatasan harus dibangun melalui keterlibatan aktif masyarakat serta kolaborasi lintas pihak.
“Menanam pohon bukan hanya soal menambah vegetasi, tetapi juga menumbuhkan kepedulian dan rasa memiliki masyarakat terhadap lingkungan dan memberikan tambahan nilai manfaat. Dengan motivasi itu, warga setempat perlahan akan menjadi aktor utama dalam merawat tanaman ini hingga tumbuh besar dan menghasilkan,” ujar Albert.
Berdasarkan laporan Gempur Kalimantan, ke-644 bibit yang ditanam merupakan varietas tanaman produktif bernilai ekonomi tinggi. Rinciannya meliputi 125 pohon durian, 200 matoa, 25 rambutan, 100 cempedak, 9 kopi, 50 jengkol, 25 petai, 10 sirsak, 50 langsat, serta 50 kluwih.
Sebanyak 325 bibit dialokasikan di Desa Temajuk—yang ditanam di lahan dampingan KPH Sambas di Dusun Maludin serta kawasan sekitar Pos Pamtas TNI AD. Sementara itu, 319 bibit lainnya dihibahkan kepada pengurus HTR Prasak di Dusun Cermai, Desa Sebubus yang juga merupakan kelompok binaan KPH Sambas.
Kelompok HTR Prasak sendiri beranggotakan 25 orang (21 laki-laki dan 4 perempuan) yang mengelola kawasan hutan seluas 800 hektare. Sekitar 750 hektare dari area tersebut telah ditanami kelapa sawit, sementara 50 hektare sisanya disiapkan untuk pengembangan tanaman pohon produktif.
Aksi ini turut melibatkan Kelompok Masyarakat Wahana Bahari Sungai Belacan dan mahasiswa Politeknik Negeri Sambas (Poltesa) saat melakukan penanaman di Sungai Gelam, pesisir Pantai Paloh. Secara khusus, di lokasi ini ditanami dengan pohon Cemara, yang akan ke depannya akan merimbunkan pantai peneluran penyu ini.
Pelibatan elemen lokal ini dinilai krusial guna menjamin pemeliharaan dan pemantauan jangka panjang setelah program selesai, serta tentunya mengedukasi generasi muda untuk konservasi pesisir.
Albert menambahkan bahwa kolaborasi lintas sektor menjadi kunci utama dalam agenda tersebut. Kegiatan ini merangkul pemerintah desa, KPH Sambas, Pokdarwis Temajuk, pemerintah daerah, aparat keamanan, pemuda, mahasiswa, kelompok tani, pengelola HTR, hingga otoritas perbatasan Indonesia dan Malaysia.
“Perbatasan bukan sekadar garis batas teritorial dan keamanan. Ada masyarakat, hutan, pesisir, dan kekayaan alam yang harus dijaga bersama. Lewat aksi lingkungan ini, kita memperkuat komunikasi dan semangat gotong royong lintas batas,” tambahnya.
Dukungan luas juga mengalir dari Badan Pengelola Perbatasan Daerah Provinsi Kalbar, satuan Pamtas TNI, Karang Taruna Temajuk, Poltesa, Jabatan Imigresen Malaysia, Majelis Keselamatan Negara, hingga Tentara Darat Malaysia. Dalam dokumentasi kegiatan, tampak personel Jabatan Imigresen Malaysia turut berpartisipasi menanam pohon durian dan matao di Desa Temajuk.
Kendati demikian, pelaksanaan di lapangan tidak luput dari dinamika. Rencana penanaman di salah satu areal bekas kebakaran sempat dibatalkan akibat penolakan dari pemilik lahan. Tim dengan sigap mengalihkan lokasi penanaman ke area lain yang telah mengantongi izin dari pemilik atau pengelola sah.
Menurut laporan tim, peristiwa ini membuktikan bahwa pemulihan lingkungan tidak cukup hanya mengandalkan pendekatan teknis semata. Aspek kejelasan status lahan, hak masyarakat, serta rencana pemanfaatan kawasan harus selalu diperhitungkan secara matang.
Sebagai tindak lanjut, Gempur Kalimantan berkomitmen melakukan pemantauan pertumbuhan tanaman, dokumentasi, evaluasi tingkat keberhasilan, serta penguatan kapasitas kelompok lokal sebagai garda terdepan pemeliharaan.
Sebagai catatan akhir dari rangkaian kegiatan ini, lahir pula inisiatif baru bernama Gempur Muda Perbatasan, sebuah wadah bagi generasi muda untuk terus aktif berkontribusi dalam gerakan pelestarian lingkungan di garis depan negeri.*
