Bukan Konser Biasa, LAS! Jadikan Bona Fortuna Ruang Kritik Eksploitasi Kalimantan

Sebuah suguhan mini konser yang kental dengan misi penyelamatan lingkungan

Aksi panggung kelompok musik LAS! di ajang Bona Fortuna 2026 di Tumbuh Coffee Mujahidin Pontianak, Jumat (3/4/2026). Foto: Desi Rahmawati/Kolase.id

Kolase.id – Isu lingkungan seringkali terjebak dalam ruang rapat formal yang kaku. Namun, kelompok musik LAS!  punya cara berbeda untuk meruntuhkannya.

Merayakan satu dekade perjalanan kelompok musik ini, LAS! menggelar Bona Fortuna 2026 di Tumbuh Coffee Mujahidin, Jumat (3/4/2026). Sebuah suguhan mini konser yang kental dengan misi penyelamatan lingkungan.

Bob Gloriaus, vokalis sekaligus gitaris LAS!, berupaya mengawinkan musik dengan kampanye lingkungan. Ini bukan sekadar tren, melainkan sebuah keniscayaan.

Ia merasa selama ini ada sekat yang memisahkan antara aktivis lingkungan (NGO) dengan pelaku industri kreatif.

“NGO kadang belum terhubung satu sama lain, apalagi dengan industri kreatif. Saya mencoba menghubungkan ini semua,” tegas musisi kelahiran 90-an tersebut.

Melalui Bona Fortuna, LAS! berupaya memecah bubble informasi. Mereka ingin isu lingkungan tidak hanya menjadi konsumsi para pakar, tetapi juga bergema di tengah riuh rendah kerumunan konser musik.

Tanggung Jawab Moral di Atas Tanah Tereksploitasi

Bona Fortuna 2026 menjadi ruang kritik LAS! terhadap eksploitasi hutan Kalimantan dan lambannya kebijakan lingkungan pemerintah. Foto: Desi Rahmawati/Kolase.id

Bona Fortuna menjadi titik temu lintas generasi dan profesi, mulai dari mahasiswa, organisasi sosial (CSO), hingga aktivis lingkungan. Bob mengungkapkan keresahannya terhadap kontradiksi yang terjadi di Kalimantan: dipuja sebagai paru-paru dunia, namun terus diperas kekayaannya.

Musisi punya tanggung jawab moral lebih dari sekadar menerima honor. Memulai obrolan konkret tentang apa yang bisa dilakukan untuk hutan Kalimantan, hingga membangun jaringan kolektif yang lebih kuat dan kooperatif.

“Kita berdiri di atas tanah Kalimantan yang dieksploitasi terus. Alangkah baiknya jika kita tidak hanya bikin panggung dan bermain musik, tetapi juga mulai membahas apa yang bisa kita perbuat untuk hutan kita,” tambah Bob.

Kritik Pedas untuk Kebijakan yang “Loyo”

Tak hanya bernyanyi, Bona Fortuna 2026 juga menjadi ruang dialektika yang panas. Bob secara blak-blakan mengkritik lambannya pemerintah dalam merespons krisis lingkungan.

Ia menilai masyarakat tidak bisa lagi hanya duduk manis menunggu kebijakan yang seringkali tidak progresif.

“Kalau kita cuma menunggu, itu menyedihkan dan bikin capek. Kita butuh wacana progresif saat kebijakan yang ada sangat tidak progresif,” ujarnya.

Menutup perhelatan tersebut, Bob berharap Bona Fortuna menjadi awal dari gerakan kolektif yang lebih masif di Pontianak. Baginya, kopi dan diskusi adalah bahan bakar, sementara musik adalah mesin penggeraknya.

“Intinya, saya ingin semua teman-teman dari berbagai latar belakang bisa terhubung. Musik adalah alat pemersatu yang punya potensi sangat besar untuk itu,” pungkasnya.*

Exit mobile version