Kolase.id – Kelompok pengelola sampah dan pelaku UMKM di Desa Medan Mas, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, mengubah limbah domestik (rumah tangga) menjadi produk kerajinan dan pangan bernilai ekonomi.
Salah satu kelompok pengelola sampah, Desi, mengatakan kelompoknya dibentuk pada 2021 bersama Yayasan Marin sebagai respons atas persoalan sampah yang dihadapi masyarakat desa.
“Awalnya karena banyaknya sampah di desa kami. Kemudian kami berpikir bagaimana sampah ini bisa dikelola dan diolah menjadi sesuatu yang bernilai,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, anggota kelompok melakukan kunjungan ke rumah-rumah warga untuk mengumpulkan sampah terpilah, seperti kemasan sabun cair, minyak, dan berbagai bahan plastik yang masih dapat dimanfaatkan.
Sampah yang terkumpul kemudian diolah menjadi berbagai produk kerajinan, antara lain tas, tempat tisu, kipas, keranjang, dan wadah belanja. Produk tersebut dibuat melalui proses kreatif dan keterampilan anggota kelompok.
Anggota kelompok menyediakan wadah pengumpulan agar kemasan bekas tidak langsung dibuang, melainkan dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan kerajinan.
Ia mengatakan upaya tersebut mendapat dukungan dari berbagai pihak. Salah satunya Yayasan Blue Forests dan Blue Ventures yang memberikan mesin untuk mendukung pengembangan kegiatan kelompok, meski pemanfaatannya masih belum maksimal karena keterbatasan pengetahuan teknis.
Sementara itu, pelaku usaha amplang asal Desa Medan Mas, Ayu, menceritakan perjalanan usahanya yang dirintis sejak 2013 dari skala rumahan.
Ia mengatakan pada awalnya produk amplang yang dibuat belum banyak dikenal dan penjualannya masih terbatas. Namun, setelah berani memperluas pemasaran hingga ke Pontianak, permintaan terhadap produknya mulai meningkat.
“Dulu saya hanya membuat sedikit dan belum semuanya laku. Setelah mulai berani membawa produk keluar, alhamdulillah ada peningkatan dan permintaan terus bertambah,” katanya.
Menurut dia, pertemuan dan pendampingan bersama berbagai pihak turut membuka peluang pemasaran dan meningkatkan kapasitas produksi. Dari yang sebelumnya hanya sekitar 700 kilogram, produksi kemudian berkembang hingga mencapai sekitar satu ton.
Ia berharap pengalaman tersebut dapat menjadi motivasi bagi perempuan dan pelaku UMKM lainnya untuk terus mengembangkan usaha. Menurutnya, keterbatasan pada tahap awal bukan alasan untuk berhenti berusaha selama ada kemauan untuk belajar dan terus mencoba.
“Jangan menyerah dalam menjalankan usaha. Terus semangat, karena usaha yang kita mulai dari kecil bisa berkembang kalau kita terus berusaha,” katanya.*
