Tanagupa Terbakar, Malaka Project Dorong Solidaritas untuk Pemulihan

Mengajak publik memperkuat solidaritas dan mendukung pemulihan Tanagupa pascakebakaran

CEO Malaka Project, Ferry Irwandi, yang mengunjungi Tanagupa pada Sabtu (29/8/2026) dalam rangkaian kegiatannya menangani karhutla di Kalimantan Barat. Foto: Hilary Bernadetha/Kolase.id

Selain persoalan teknis pemadaman, Ferry juga menyoroti pentingnya pengungkapan penyebab dan pihak yang memicu kebakaran. Ia menilai kemunculan titik api di tengah kondisi saat ini perlu ditelusuri lebih lanjut.

“Api itu selalu ada yang memicu kan, ada yang membuat. Untuk keadaan kayak sekarang api tiba-tiba muncul sendiri itu, bukannya kita bilang mustahil, tapi kecil,” ujarnya.

Di sisi lain, Ferry mengapresiasi upaya ASRI dalam mengintegrasikan konservasi dengan kesehatan masyarakat. Dalam kunjungannya, ia melihat langsung kegiatan yang dilakukan yayasan tersebut di sekitar kawasan Taman Nasional Gunung Palung.

Menurut Ferry, ASRI telah menjalankan program revitalisasi dan reboisasi sekaligus pelayanan kesehatan masyarakat. Ia menyebut ASRI telah melakukan penanaman pohon dalam jumlah besar sejak program tersebut berjalan.

“Dari ASRI ini ada yayasan luar biasa sekali, fokusnya revitalisasi, reboisasi sama kesehatan masyarakat,” kata Ferry.

Ia menyebut puluhan ribu pohon yang sebelumnya ditanam ASRI juga ikut terdampak kebakaran. Karena itu, menurut Ferry, diperlukan upaya pemulihan setelah kondisi karhutla dapat dikendalikan.

“Udah nanam pohon itu mungkin 70 ribu (bibit pohon) dan udah jadi, dan kebakar semua. Nah itu yang berusaha kita bantu,” ujarnya.

Bagi kawasan yang sedang dipulihkan, kebakaran berarti kemunduran yang tidak sederhana. Pohon yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk tumbuh dapat hilang dalam satu musim kebakaran, sementara fungsi ekologis hutan membutuhkan waktu yang lebih panjang untuk kembali terbentuk.

Ferry juga menyoroti kondisi petugas dan relawan yang telah menangani karhutla selama hampir satu bulan. Menurutnya, personel dari berbagai unsur, mulai dari TNI, Polri, pemadam kebakaran, BPBD hingga relawan, membutuhkan dukungan tambahan karena titik api masih terus muncul.

“Petugas siapapun, TNI, Polri, Damkar, BPBD, BNPB juga udah kewalahan banget. Butuh tambahan personel juga, relawan juga udah kewalahan banget,” katanya.

Dukungan terhadap penanganan karhutla kemudian tidak hanya diarahkan pada pemadaman, tetapi juga pada pemulihan kawasan dan mitigasi untuk menghadapi potensi kebakaran di masa mendatang. Dalam kolaborasi Malaka Project, Kitabisa dan ASRI, dilakukan penggalangan dana melalui Kitabisa dengan target Rp500 juta.

“Betul, penggalangan dana, di Kitabisa, targetnya Rp500 juta. Dananya digunakan untuk melengkapi peralatan dan logistik lain seperti APD, masker dan lain-lain untuk petugas pemadam dan masyarakat umum. Selain itu juga untuk pemulihan kawasan yang terdampak melalui reboisasi, serta mitigasi karhutla di masa yang akan datang,” kata Rusda.

Dana tersebut akan digunakan untuk melengkapi peralatan dan logistik penanganan karhutla, seperti alat pelindung diri (APD) dan masker bagi petugas pemadam serta masyarakat umum. Dukungan juga diarahkan untuk pemulihan kawasan terdampak melalui reboisasi serta penguatan mitigasi karhutla di masa mendatang.

Exit mobile version