Di tengah kondisi tersebut, berbagai pihak mulai bergerak untuk mendukung penanganan karhutla sekaligus pemulihan kawasan terdampak. Salah satunya CEO Malaka Project, Ferry Irwandi, yang mengunjungi Tanagupa pada Sabtu (29/8) dalam rangkaian kegiatannya menangani karhutla di Kalimantan Barat.
Dalam kunjungan tersebut, Ferry berkolaborasi dengan Kitabisa melalui penyaluran bantuan logistik dan peralatan untuk mendukung penanganan karhutla serta pemantauan titik api menggunakan pemetaan udara. Ferry juga melihat langsung kegiatan ASRI yang selama ini menjalankan program konservasi dan kesehatan masyarakat di sekitar kawasan hutan.
Salah satu tantangan yang dihadapi Malaka Project adalah sulitnya proses pemadaman karhutla, terutama di kawasan dengan karakteristik lahan gambut. Menurutnya, pemadaman tidak dapat dilakukan secara instan karena api dapat tetap berada di dalam lapisan gambut meski telah dilakukan penyiraman.
“Tadi di satu daerah itu gambut bisa mencapai 12 meter. Artinya sudah disuntik pun, sudah dimasukkan selangnya ke dalam tanah, asap masih keluar,” kata Ferry.
Namun, persoalan karhutla tidak berhenti pada bagaimana api dipadamkan. Ada pertanyaan lain yang lebih mendasar tentang bagaimana api tersebut bermula dan siapa atau apa yang membuatnya menyala.
