Sementara itu, penyuluh pertanian Joko Supriyanto menekankan pentingnya peningkatan pengetahuan, keterampilan, ekonomi, akses teknologi, kelembagaan serta penerapan pendekatan gender.
Menurutnya, petani tidak cukup hanya mampu menghasilkan produk, tetapi juga harus memahami pasar agar hasil pertanian memiliki nilai tambah dan daya saing.
Dari forum tersebut mengemuka kesepahaman bahwa penguatan petani perempuan tidak dapat dilakukan oleh satu pihak. Pemerintah, penyuluh, kelompok petani, organisasi masyarakat sipil, akademisi hingga dunia usaha perlu membangun kerja bersama.
Forum juga mendorong agar petani perempuan memiliki ruang lebih besar dalam proses perencanaan pembangunan, termasuk dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan atau Musrenbang.
Ke depan, kolaborasi diarahkan pada peningkatan kapasitas, penguatan KWT dan kelompok tani, perluasan akses pembiayaan dan sarana produksi, pengembangan teknologi serta pemasaran, hingga perlindungan lahan pertanian.
FGD tersebut diharapkan menjadi langkah awal penyusunan roadmap kolaborasi multipihak untuk memperkuat petani perempuan di Kota Singkawang.
Sebab, ketika petani perempuan memiliki akses, pengakuan dan ruang untuk mengambil keputusan, yang diperkuat bukan hanya posisi perempuan, tetapi juga ketahanan pangan, ekonomi rumah tangga dan keberlanjutan pertanian di Kota Singkawang.*
