Kolase.id – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kabut asap kembali melanda Kalimantan Barat. Namun, Link-AR Borneo menilai penanganan yang selama ini dilakukan belum menyentuh akar persoalan, yakni ketimpangan penguasaan lahan, kerusakan hutan dan gambut, serta lemahnya tata kelola sumber daya alam.
Dalam siaran persnya, Link-AR menyebut per 29 Agustus 2026 terdapat 6.526 titik panas di Kalimantan Barat. Dampak kebakaran disebut telah memperburuk kualitas udara, mengancam permukiman dan satwa liar, bahkan asap dilaporkan melintasi batas negara hingga Sarawak, Malaysia.
Organisasi tersebut juga mencatat dua korban jiwa di tengah bencana karhutla sepanjang Agustus 2026.
Menurut Link-AR, bencana asap yang berulang sejak 1997-1998, 2015, 2019 hingga 2026 menunjukkan persoalan karhutla tidak cukup diselesaikan hanya dengan pemadaman api dan penegakan hukum di lapangan.
Link-AR menyoroti ekspansi perkebunan sawit, hutan tanaman industri dan pertambangan yang dinilai terus memberi tekanan terhadap hutan dan kawasan gambut.
Di Kalimantan Barat, Link-AR mencatat terdapat 63 konsesi PBPH seluas sekitar 2,77 juta hektare. Sementara sekitar 3,8 juta hektare lahan di Areal Penggunaan Lain telah dialokasikan untuk perkebunan sawit.
Organisasi itu juga menyoroti rencana perluasan perkebunan sawit hingga sekitar 3,79 juta hektare.
Menurut Link-AR, rencana tersebut menjadi alarm serius jika dilakukan tanpa evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola lahan dan lingkungan.
