Perwakilan Kalbar Bawa Isu Karhutla ke Forum Ekonomi Kreatif Nasional

Mendorong ekonomi kreatif hijau yang menghubungkan inovasi, pemulihan lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat

Avatar
Koordinator Daerah ICCN Kalbar Beny Than Heri. Foto: Dok. Kolase

Kolase.id — Persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta pemulihan lingkungan menjadi isu yang dibawa perwakilan Kalimantan Barat dalam rangkaian Hari Ekonomi Kreatif Nasional (Hekrafnas) 2026 di Jakarta. Isu tersebut diangkat untuk mendorong pengembangan ekonomi kreatif hijau yang tidak hanya menghasilkan nilai ekonomi, tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat dan kelestarian alam.

Perwakilan Kalimantan Barat berpartisipasi dalam rangkaian kegiatan yang mencakup World Conference on Creative Economy (WCCE) dan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Indonesian Creative Cities Network (ICCN). Kegiatan ini menjadi ruang pertemuan bagi komunitas kreatif, pelaku ekonomi kreatif, dan pemangku kepentingan dari berbagai daerah di Indonesia.

Kalimantan Barat diwakili Beny Than Heri selaku Koordinator Daerah ICCN Kalbar, Trino Junaidi selaku pengurus ICCN Deputi 5, serta Subhi selaku Koordinator Kabupaten ICCN Sambas.

Rangkaian Hekrafnas 2026 berlangsung sepanjang Oktober. WCCE diselenggarakan di SCBD Park, sedangkan Rakornas ICCN berlangsung pada 23–24 Oktober 2026 di Gedung Film Pesona Indonesia, Jakarta.

Berbagai agenda digelar, mulai dari seminar, konferensi, pameran produk kreatif, diskusi, hingga pertemuan jejaring antarpelaku ekonomi kreatif. Forum tersebut membuka peluang pertukaran gagasan dan kolaborasi untuk memperkuat ekosistem ekonomi kreatif di daerah.

Karhutla Bukan Hanya Tentanng Lingkungan

Karhutla tidak semata perkara tentang kerusakan ekosistem dan pencemaran udara. Kebakaran juga berkaitan dengan keberlanjutan mata pencaharian masyarakat, pemanfaatan sumber daya alam, dan peluang pengembangan ekonomi lokal.

Karena itu, upaya pemulihan lingkungan pascakebakaran perlu berjalan beriringan dengan pengembangan sumber penghidupan yang berkelanjutan. Kreativitas dan inovasi dapat menjadi salah satu pendekatan untuk mendorong lahirnya produk, jasa, serta model usaha yang memberikan nilai tambah tanpa memperbesar tekanan terhadap lingkungan.

Perspektif ekonomi kreatif hijau menempatkan kelestarian alam sebagai bagian penting dari pembangunan ekonomi. Potensi lokal tidak cukup hanya diolah menjadi produk bernilai jual, tetapi juga perlu dikembangkan dengan mempertimbangkan daya dukung lingkungan, manfaat sosial, dan keberlanjutan dalam jangka panjang.

Pendekatan tersebut relevan bagi Kalimantan Barat yang memiliki kekayaan sumber daya alam, keragaman budaya, serta potensi masyarakat kreatif. Namun, potensi itu memerlukan dukungan kebijakan, inovasi, dan kolaborasi agar dapat berkembang tanpa mengabaikan persoalan lingkungan yang dihadapi daerah.

Menghubungkan Kreativitas, Manusia, dan Alam

Gagasan lain yang dibawa perwakilan Kalbar adalah pentingnya membangun ekonomi kreatif dengan menyeimbangkan tiga dimensi kehidupan, yakni hablum minallah, hablum minannas, dan hablum minal alam.

Ketiga prinsip tersebut menggambarkan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam. Dalam pengembangan ekonomi kreatif hijau, prinsip ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan ekonomi tidak semestinya hanya diukur berdasarkan keuntungan, tetapi juga manfaat sosial dan dampaknya terhadap lingkungan.

Kreativitas diharapkan mampu memperkuat potensi lokal, membuka peluang ekonomi bagi masyarakat, serta mendorong praktik produksi dan konsumsi yang lebih bertanggung jawab.

Dengan pendekatan tersebut, ekonomi kreatif dapat berkontribusi pada upaya pemulihan lingkungan sekaligus memperluas kesempatan masyarakat untuk mengembangkan usaha yang berkelanjutan.

Produk Lokal Kalbar Masuk Pameran

Selain membawa isu lingkungan, perwakilan Kalimantan Barat turut memperkenalkan produk kreatif daerah melalui pameran dalam rangkaian kegiatan tersebut. Produk yang ditampilkan meliputi produk fesyen upcycle berupa Paket Edu-Kreatif Mewarnai serta kopi liberika khas Kalbar.

Produk-produk tersebut menjadi sarana untuk memperkenalkan kreativitas dan potensi lokal kepada jejaring pelaku ekonomi kreatif dari berbagai wilayah Indonesia. Fesyen upcycle, misalnya, berkaitan dengan upaya memberikan nilai tambah pada material yang digunakan kembali, sedangkan kopi liberika memperlihatkan potensi komoditas lokal untuk dikembangkan melalui inovasi produk dan penguatan identitas daerah.

Meski demikian, pengembangan produk kreatif berbasis keberlanjutan membutuhkan praktik yang konsisten. Aspek penggunaan bahan, proses produksi, pengelolaan limbah, serta manfaat ekonomi bagi masyarakat perlu menjadi bagian dari upaya membangun ekonomi kreatif hijau.

Kolaborasi Menentukan Masa Depan Ekonomi Kreatif

Pengembangan ekonomi kreatif di Kalimantan Barat tidak dapat hanya mengandalkan kemampuan individu atau komunitas. Kolaborasi antara pelaku kreatif, komunitas, pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat diperlukan agar potensi daerah dapat berkembang secara berkelanjutan.

Partisipasi dalam WCCE dan Rakornas ICCN menjadi kesempatan bagi perwakilan Kalimantan Barat untuk memperluas jejaring, bertukar pengalaman, serta membuka peluang kerja sama dengan berbagai pihak.

Tantangan berikutnya adalah menerjemahkan gagasan yang dibawa ke forum nasional menjadi program nyata di daerah. Pengembangan produk ramah lingkungan, penguatan usaha kreatif berbasis potensi lokal, serta keterlibatan komunitas dalam pemulihan lingkungan dapat menjadi bagian dari upaya tersebut.

Bagi Kalimantan Barat, ekonomi kreatif hijau perlu ditempatkan bukan sekadar sebagai strategi menciptakan produk yang bernilai ekonomi, melainkan sebagai pendekatan untuk menghubungkan kreativitas, kesejahteraan masyarakat, dan tanggung jawab ekologis.

Dengan inovasi dan kolaborasi yang berkelanjutan, ekonomi kreatif diharapkan dapat menjadi salah satu jalan untuk memperkuat ekonomi lokal sekaligus mendukung upaya menjaga dan memulihkan lingkungan Kalimantan Barat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *