Karhutla Medan Mas Capai 15 Hektare, Api Masih Menggerogoti Gambut

Api masih bertahan di lapisan gambut dan membutuhkan dukungan air serta mesin pompa berkapasitas tinggi

Karhutla Medan Mas diperkirakan membakar 15 hektare lahan gambut dan mineral. Foto: Dok. Pemdes Medan Mas

Kolase.id — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Medan Mas belum sepenuhnya padam. Kebakaran yang mulai terjadi sejak 9 Agustus 2026 itu diperkirakan telah melahap sekitar 15 hektare lahan gambut dan mineral di Dusun Medan Deli dan Dusun Sungai Masjid.

Ketua Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Medan Mas Rusdianto mengatakan kebakaran pertama terjadi pada 9 Agustus di Dusun Medan Deli, tepatnya di kawasan Areal Penggunaan Lain (APL). Selanjutnya, kebakaran kembali muncul pada 20 Agustus di Dusun Sungai Masjid yang berada di kawasan APL dan Hutan Desa (HD).

“Untuk luas yang terbakar saat ini diperkirakan kurang lebih 15 hektare, mencakup kawasan HD dan APL,” kata Rusdianto.

Menurutnya, sebagian besar lahan yang terbakar merupakan gambut dan mineral. Lokasi kebakaran juga tidak jauh dari kawasan mangrove sehingga penanganannya harus dilakukan secara intensif untuk mencegah api meluas.

Pemadaman hingga kini dilakukan oleh Tim Satgas Pengamanan dan Perlindungan Hutan, LPHD, serta warga setempat. Namun, tantangan terbesar adalah api yang masih bertahan di dalam lapisan gambut.

Rusdianto menjelaskan, meski kobaran api di permukaan sudah berhasil dikendalikan, titik panas masih dapat muncul kembali ketika suhu meningkat.

“Belum padam total karena ada api yang memakan tanah atau gambut. Api bisa timbul lagi ketika panas kuat di lokasi tersebut,” ujarnya.

Butuh Mesin Pompa dan Air

Kondisi tersebut membuat pemadaman membutuhkan dukungan peralatan dan pasokan air yang memadai. Warga bersama tim pemadam masih harus bekerja untuk memastikan titik-titik api dan bara di dalam gambut benar-benar mati.

Rusdianto menyebut kebutuhan paling mendesak saat ini adalah air bersih dan air untuk pemadaman karhutla.

Selain itu, diperlukan mesin pompa berkapasitas besar maupun mesin jinjing dengan kemampuan penyedotan tinggi yang mudah dipindahkan sesuai kondisi medan.

“Kami juga membutuhkan transportasi dan sarana untuk mengangkut peralatan ke lokasi,” katanya.

Ia berharap dukungan terhadap masyarakat dan tim yang berjibaku memadamkan api dapat segera diberikan, terutama untuk memastikan ketersediaan air, peralatan pemadaman, serta sarana mobilitas.

Karhutla di Medan Mas menjadi perhatian serius karena api tidak hanya membakar vegetasi di permukaan, tetapi juga dapat bertahan di bawah tanah pada lapisan gambut.

Kondisi itu membuat ancaman kebakaran tetap ada meski kobaran api dari permukaan telah mereda.

Rusdianto menyebut api masih bertahan di lapisan gambut dan membutuhkan dukungan air serta mesin pompa berkapasitas tinggi.*

Exit mobile version