Haji dan Kesalehan Sosial Ekologis

oleh M Hermayani Putera

Ilustrasi Gemini AI

SETIAP tahun, jutaan umat Islam dari berbagai penjuru dunia bergerak menuju satu titik yang sama, Tanah Suci Makkah. Mereka mengenakan pakaian ihram yang serupa, melafalkan talbiyah yang sama, melepaskan berbagai identitas sosial yang selama ini melekat dalam kehidupan sehari-hari. Tidak ada lagi sekat bangsa, jabatan, kekayaan, ataupun status sosial. Semua setara sebagai hamba di hadapan Allah SWT.

Haji bukan sekadar perjalanan ritual menuju Ka’bah. Di dalamnya ada perjalanan batin yang mengajarkan ketundukan, kesederhanaan, kesabaran, serta kesadaran tentang hubungan manusia dengan sesama dan dengan alam semesta. Haji mengajarkan bahwa kesalehan tidak berhenti pada hubungan vertikal dengan Tuhan, tetapi juga harus hadir dalam relasi horizontal dengan kehidupan.

Di tengah triple planetary crisis yang dihadapi dunia saat ini, yakni perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan polusi, nilai-nilai yang diajarkan dalam ibadah haji terasa semakin relevan. Krisis ini sesungguhnya tidak hanya menunjukkan kerusakan lingkungan, tetapi juga krisis cara pandang manusia terhadap bumi. Alam lebih sering diperlakukan sebagai objek ekonomi, bukan sebagai amanah kehidupan yang harus dijaga bersama.

Padahal Al-Qur’an telah mengingatkan manusia agar tidak membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya sebagaimana termaktub dalam QS. Al-A’raf ayat 56. Pesan ini menegaskan bahwa bumi bukanlah milik manusia sepenuhnya, melainkan titipan yang harus dijaga bersama. Kerusakan lingkungan dalam pandangan Islam bukan hanya persoalan alam, tetapi juga berkaitan dengan sikap moral dan spiritual manusia.

Menghormati Kehidupan

Menariknya, nilai menjaga kehidupan hadir sangat kuat dalam ibadah haji. Ketika seorang Muslim memasuki keadaan ihram, ia tidak diperbolehkan memburu hewan, mencabut tumbuhan, merusak pepohonan, ataupun melakukan tindakan yang mengganggu keseimbangan alam di sekitarnya.

Haji mengajarkan makna spiritual yang mendalam. Saat seorang insan berada dalam fase ibadah yang begitu dekat dengan Allah SWT, ia justru diajarkan untuk semakin menghormati kehidupan di sekitarnya, bahkan terhadap tumbuhan dan hewan sekalipun. Nilai itu ditegaskan kembali oleh Allah SWT dalam QS. Al-Ma’idah ayat 95 yang melarang orang beriman membunuh binatang buruan ketika sedang ihram.

Semakin dekat seorang hamba kepada Allah SWT, seharusnya semakin lembut pula sikapnya terhadap seluruh ciptaan-Nya. Haji mengajarkan bagaimana manusia membangun hubungan yang penuh hormat, kasih sayang, dan tanggung jawab terhadap kehidupan.

Nilai ini juga tercermin dalam ajaran Nabi Muhammad SAW. Dalam hadis riwayat Ahmad, Rasulullah SAW menganjurkan seseorang untuk tetap menanam benih yang ada di tangannya sekalipun dunia seakan berada di penghujung waktunya. Pesan ini menunjukkan bahwa Islam senantiasa berpihak pada kehidupan. Merawat, menumbuhkan, dan menjaga keberlangsungan kehidupan tetap menjadi amal yang bernilai, bahkan pada saat-saat yang paling genting sekalipun.

Semangat yang sama tampak dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim yang menyebutkan bahwa setiap pohon atau benih yang ditanam seorang muslim, lalu dimanfaatkan manusia, burung, atau hewan, akan bernilai sedekah baginya. Islam memandang hubungan manusia dengan alam bukan sebagai relasi penguasaan dan penaklukan, melainkan relasi amanah, kepedulian, dan kasih sayang terhadap kehidupan.

Konsep ini sejalan dengan peran manusia sebagai khalifah fil ardh, yaitu penjaga dan pemelihara bumi. Menjadi khalifah bukan berarti diberi hak untuk mengeksploitasi alam tanpa batas, melainkan mengemban amanah untuk menjaga keseimbangan, merawat kehidupan, dan mewariskan bumi yang tetap lestari kepada generasi yang akan datang.

Islam Transformatif

Pemikir Muslim seperti Fazlur Rahman menegaskan bahwa Islam harus dipahami secara moral dan transformatif. Keberagamaan tidak cukup berhenti pada ritual dan simbol, tetapi harus mampu melahirkan perubahan yang menghadirkan kemaslahatan, keadilan, dan kebaikan bagi kehidupan.

Sementara itu, Seyyed Hossein Nasr yang dikenal luas melalui pemikirannya tentang spiritualitas dan ekologi Islam, mengingatkan bahwa krisis lingkungan yang dihadapi dunia saat ini pada dasarnya berakar pada krisis spiritual manusia. Menurutnya, modernitas telah mendorong manusia memisahkan alam dari dimensi kesakralannya. Akibatnya, alam tidak lagi dipandang sebagai tanda-tanda kebesaran Allah yang layak dihormati dan dijaga, melainkan semata-mata sebagai komoditas ekonomi yang dapat dieksploitasi tanpa batas.

Pandangan serupa juga dapat ditemukan dalam jejak pemikiran Kuntowijoyo tentang Islam transformatif. Menurutnya, agama tidak boleh berhenti pada kesalehan individual, tetapi harus menghadirkan perubahan nyata dalam kehidupan sosial. Keimanan harus melahirkan keberpihakan pada kemanusiaan, keadilan, dan upaya menjaga kehidupan itu sendiri.

Menyembelih Keserakahan

Kesadaran bahwa keimanan harus diwujudkan dalam tanggung jawab sosial dan ekologis tidak lagi dapat dipisahkan dari berbagai persoalan lingkungan yang kita hadapi saat ini. Ketika hutan dibabat, sungai tercemar, tanah rusak akibat eksploitasi, serta masyarakat adat dan komunitas lokal kehilangan ruang hidupnya, maka kerusakan lingkungan bukan semata persoalan ekologis. Di baliknya terdapat persoalan keadilan, kemanusiaan, dan cerminan dari bagaimana manusia menjalankan amanah yang diberikan Allah SWT untuk menjaga bumi.

Idul Adha tidak boleh berhenti pada prosesi penyembelihan hewan kurban. Momentum ini juga mengajak kita untuk menengok ke dalam diri dan mengurbankan hal-hal yang selama ini menghalangi lahirnya kepedulian dan ketakwaan. Mungkin yang perlu disembelih bukan hanya hewan kurban, tetapi juga keserakahan, egoisme, gaya hidup berlebihan, serta ketidakpedulian terhadap sesama manusia dan kelestarian bumi.

Keberagamaan yang utuh tidak hanya tercermin dalam ibadah ritual, tetapi juga dalam cara kita memperlakukan kehidupan. Sebab mencintai Allah juga berarti merawat ciptaan-Nya.

Merawat Amanah Tuhan

Haji bukanlah akhir perjalanan spiritual, melainkan awal perubahan diri. Seorang yang telah menunaikan ibadah haji idealnya tidak hanya menunaikan rukun Islam yang kelima, tetapi juga membawa pulang kesadaran baru bahwa iman harus menghadirkan kepedulian sosial dan tanggung jawab terhadap bumi.

Sementara bagi yang belum berkesempatan menjadi tamu Allah di Tanah Suci, Idul Adha tetap menghadirkan pelajaran yang sama. Bahwa ketakwaan tidak hanya diwujudkan dalam ritual ibadah, tetapi juga dalam cara kita memperlakukan sesama dan merawat bumi yang dititipkan Allah SWT kepada manusia. Kesalehan tidak hanya diukur dari seberapa sering manusia menengadah ke langit, tetapi juga dari seberapa sungguh ia menjaga bumi tempat ia berpijak.*

Exit mobile version