Hal serupa dirasakan Jamal (38), seorang petani di Sekunder C. Sebelum adanya bantuan, ia mengatakan sejumlah warga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli air bagi kebutuhan sehari-hari.
“Biasanya kami harus beli air galon untuk dimasak. Dengan adanya bantuan dari Gubernur Kalbar ini, kami sangat terbantu, beban ekonomi sedikit berkurang dan kebutuhan air bersih keluarga tercukupi,” ungkapnya.
Persoalan air bersih menjadi salah satu dampak yang kini dihadapi masyarakat di tengah musim kemarau. Pada saat bersamaan, kawasan tersebut juga menjadi salah satu wilayah yang menghadapi penanganan kebakaran hutan dan lahan.
Selain menyalurkan bantuan bagi masyarakat, Gubernur Ria Norsan juga memberikan perhatian kepada petugas dan relawan yang berada di garis depan penanganan karhutla.
Dalam kunjungannya ke lokasi, Norsan menyerahkan bantuan berupa masker, makanan dan vitamin untuk mendukung kondisi serta stamina tim gabungan dan relawan yang terus melakukan pemadaman.
Sebelumnya, Gubernur juga turun langsung melihat kondisi kebakaran sekaligus membantu tim gabungan melakukan pemadaman di kawasan Sekunder C.
Kehadiran pemerintah di lokasi tidak hanya diarahkan pada upaya menghentikan api, tetapi juga memastikan masyarakat yang terdampak kemarau dan karhutla tetap mendapatkan perhatian terhadap kebutuhan dasarnya.
Pemprov Kalbar menilai penanganan karhutla tidak dapat berhenti pada proses pemadaman. Dampak musim kemarau terhadap kehidupan masyarakat, mulai dari kesehatan, ketersediaan air bersih hingga kebutuhan petugas dan relawan di lapangan, juga harus menjadi bagian dari penanganan.
Melalui langkah tersebut, Pemprov Kalbar mendorong penanganan karhutla secara terpadu, mulai dari pemadaman api, pelayanan bagi masyarakat terdampak, pemenuhan kebutuhan dasar, hingga penguatan langkah pencegahan agar kebakaran tidak kembali meluas.*
