Dari Teologi ke Ekologi, Spirit Al-Ma’un di Balik Gerakan Inklusif GreenAbility Pontianak

Eco Bhinneka Muhammadiyah dorong penyandang disabilitas menjadi aktor utama gerakan penyelamatan lingkungan

Avatar
Penyandang disabilitas mengubah limbah jeans menjadi dompet dan gantungan kunci fungsional di ajang peluncuran program Together for People and Planet (ToPP) GreenAbility di GOR Paralimpik NPCI Kalimantan Barat. Foto: Dok. Eco Bhinneka Muhammadiyah

Kolase.id – Di tengah ancaman krisis iklim yang kian nyata, sebuah gebrakan inklusif lahir dari Bumi Khatulistiwa. Melalui program Together for People and Planet (ToPP) GreenAbility, Eco Bhinneka Muhammadiyah meluncurkan inisiatif yang menempatkan penyandang disabilitas sebagai aktor utama dalam penyelamatan lingkungan.

Acara yang dihelat di GOR Paralimpik NPCI Kalimantan Barat sejak 2 April 2026 ini bukan sekadar seremoni. Ini adalah pernyataan tegas bahwa keadilan ekologis harus berjalan beriringan dengan keadilan sosial.

Direktur Program Eco Bhinneka Muhammadiyah Hening Purwati menekankan bahwa gerakan ini berakar pada teologi Surat Al-Ma’un. “Iman harus diwujudkan dalam tindakan nyata membela mereka yang dilemahkan. Merawat bumi tidak bisa dipisahkan dari membela kemanusiaan,” tegasnya.

Menurut Hening, krisis lingkungan tidak akan selesai dengan pendekatan eksklusif yang meninggalkan kelompok rentan.

Senada dengan itu, Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Pontianak Achmad Mupahir mengingatkan bahwa kerusakan alam adalah cermin dari krisis moral. “Upaya mengatasinya butuh gerakan bersama yang melibatkan semua pihak, bukan sekadar kebijakan di atas kertas,” ujarnya.

Mengubah Keterbatasan Menjadi Kekuatan Ekonomi

Hari kedua kegiatan diisi dengan aksi nyata. Sebanyak 35 peserta dari berbagai latar belakang agama dan organisasi difabel dilatih menyulap limbah menjadi berkah. Limbah jeans diubah menjadi dompet dan gantungan kunci fungsional, serta ampas kopi diolah menjadi sabun cair bernilai ekonomi.

Mustaat Saman, Pendiri Yayasan Parapreneur Indonesia Bahagia, menegaskan pentingnya pergeseran paradigma ini. “Selama ini difabel sering diposisikan hanya sebagai penerima manfaat. Program ini membuktikan kami punya kemampuan dan kepedulian yang setara dalam menjaga lingkungan,” katanya dalam sesi talk show.

Dukungan penuh datang dari Pemerintah Kota Pontianak. Staf Ahli Wali Kota Elsa Risfadona menyebut bahwa kekuatan Pontianak ada pada kolaborasinya. “Ini langkah strategis untuk pembangunan yang inklusif dan adil bagi semua warga,” tuturnya.

Dari sisi konservasi global, Arabela Landscape Manager WWF Indonesia Albertus Tjiu menyatakan bahwa inisiatif ToPP GreenAbility ini adalah evolusi dari program Leading the Change yang dimulai sejak 2012. “Konservasi hanya efektif jika inklusif dan berkeadilan sosial,” tegas Albertus.

Dalam sesi diskusi panel, Dini Hari Purnami dari Dinas Sosial Kota Pontianak turut memperkuat pesan bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang bagi seseorang untuk berkontribusi bagi kelestarian alam.

Pesan dari Bumi Khatulistiwa

Meski jumlah difabel di Indonesia mencapai 22,5 juta jiwa, mereka sering kali terabaikan dalam isu perubahan iklim. Program yang juga berjalan di Jakarta, Bojonegoro, dan Manokwari ini ingin mengubah nasib tersebut.

Pontianak kini mengirimkan pesan kuat ke seluruh negeri, bahwa masa depan lingkungan hidup menuntut keberanian untuk berubah menjadi lebih inklusif. Bahwa pada akhirnya, menjaga bumi adalah tanggung jawab kolektif yang melampaui sekat agama, fisik, maupun latar belakang sosial.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *