Anak Muda Bentuk Kelompok Informasi Masyarakat dan Literasi Kampung Yuka Pontianak

Dorong generasi muda mengelola informasi, mengembangkan literasi digital, dan mengangkat potensi Kampung Yuka melalui media sosial

Avatar
Suasana Pelatihan Media Sosial dan Konten Kreatif sekaligus pembentukan Kelompok Informasi Masyarakat dan Literasi Kampung Yuka. Foto: Dok. Gaharu Kalbar

Kolase.id — Anak muda Kampung Yuka, Kelurahan Sungai Beliung, Kecamatan Pontianak Barat, Kota Pontianak, membentuk Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) dan Literasi Kampung Yuka.

Pembentukan ini menjadi langkah awal untuk memperkuat peran generasi muda dalam mengelola informasi, mengembangkan literasi digital, serta memperkenalkan potensi dan tantangan di Kampung Yuka melalui media sosial.

Pembentukan kelompok tersebut merupakan hasil musyawarah dalam Pelatihan Media Sosial dan Konten Kreatif untuk Warga Kampung Yuka yang diselenggarakan Gerakan Pembaharu (Gaharu) Kalbar pada 17–18 Oktober 2026 di PAUD Mandiri Indah, Kampung Yuka.

Mengusung tema “Dari Warga untuk Kampung: Menguatkan Cerita Lokal melalui Media Sosial dan Konten Kreatif”, pelatihan selama dua hari ini membekali peserta dengan pengetahuan dan keterampilan memproduksi konten digital sekaligus mendorong terbentuknya kelompok warga yang mampu mengelola informasi secara mandiri.

Koordinator Gaharu Kalbar Octavia Shinta Aryani mengatakan, pembentukan KIM dan Literasi Kampung Yuka diharapkan menjadi langkah untuk mendorong keterlibatan anak muda dalam pengelolaan informasi dan pengembangan potensi kampung.

“Kita ingin anak muda Kampung Yuka dapat bercerita dan memvisualisasikan potensi dan tantangan di lingkungan terdekatnya dengan cara mereka sendiri melalui pendekatan teknologi digital,” kata Octavia Shinta Aryani di Pontianak, Minggu (18/10/2026).

Sementara itu, pelatihan selama dua hari tersebut difasilitasi Andi Fachrizal, jurnalis senior sekaligus founder Yayasan Kolase. Peserta mendapatkan materi tentang pemanfaatan media sosial, strategi komunikasi digital, etika publikasi, serta praktik fotografi, videografi, dan penyuntingan konten kreatif.

Sebanyak 12 peserta yang mengikuti musyawarah pada hari kedua menyatakan kesediaan menjadi anggota aktif KIM dan Literasi Kampung Yuka. Mereka kemudian memilih kepengurusan yang terdiri atas ketua, sekretaris, bendahara, serta bidang literasi dan komunikasi informasi.

Chelsia Lea Natasya terpilih sebagai ketua, Adillah Biq Sanah sebagai sekretaris, dan Suci Jumriani sebagai bendahara. Sementara itu, Deva Septiani dipercaya mengoordinasikan bidang literasi, sedangkan Rahmad Nurdin menjadi koordinator bidang komunikasi dan informasi.

Mengangkat Cerita dari Kampung Sendiri

Pelatihan diawali dengan mengajak peserta mengenali Kampung Yuka melalui pengalaman dan sudut pandang mereka sendiri. Peserta diminta menyebutkan tiga kata yang menggambarkan kampung tempat tinggal mereka.

Hasil diskusi memperlihatkan beragam wajah Kampung Yuka. Ada yang melihatnya sebagai kampung yang aktif, kompak, dan produktif. Ada pula yang menyoroti potensi sungai, aktivitas warga, serta kehidupan sosial masyarakat.

Di sisi lain, persoalan sampah, drainase, dan banjir turut muncul dalam pemetaan tersebut. Berbagai pandangan ini menjadi sumber ide untuk mengembangkan konten yang tidak hanya memperkenalkan potensi kampung, tetapi juga mengangkat persoalan yang dihadapi warga dan upaya bersama untuk mengatasinya.

Dalam diskusi kelompok, peserta merumuskan sejumlah harapan untuk masa depan Kampung Yuka. Mulai dari lingkungan yang bersih dan bebas sampah, geretak yang terawat, kawasan tepian sungai yang lebih menarik, hingga tersedianya ruang bermain dan kegiatan positif bagi anak muda.

Peserta juga membayangkan Kampung Yuka semakin dikenal masyarakat luas melalui media sosial, bahkan menjadi tujuan kunjungan wisatawan lokal maupun mancanegara.

Berbagai gagasan tersebut diarahkan menjadi bahan cerita digital. Peserta didorong tidak sekadar membicarakan perubahan yang diinginkan, tetapi juga terlibat dalam aksi nyata, mendokumentasikannya, kemudian membagikan proses dan hasilnya kepada publik.

Belajar Memproduksi Konten dari Aktivitas Warga

Pada hari pertama, peserta mendapatkan materi mengenai pemanfaatan media sosial, strategi komunikasi digital, etika publikasi, serta dasar-dasar fotografi dan videografi menggunakan telepon pintar.

Materi praktik mencakup komposisi gambar, sudut pengambilan gambar, pencahayaan, kestabilan kamera, dan teknik merekam video. Peserta kemudian turun langsung ke lingkungan kampung untuk mengambil gambar dengan fokus pada parit, sungai, dan sampah.

Pada hari kedua, pelatihan berlanjut dengan meninjau hasil rekaman peserta dari kegiatan gotong royong warga. Rekaman tersebut memperlihatkan aktivitas membersihkan parit, mengangkut sampah, dan memperbaiki geretak.

Peserta mendapatkan masukan mengenai kualitas gambar dan teknik pengambilan video. Mereka juga belajar menyunting rekaman menggunakan aplikasi CapCut, mulai dari memilih klip, memotong bagian yang tidak diperlukan, menyusun alur cerita, hingga menambahkan teks dan musik latar.

Dari praktik tersebut, peserta berhasil menghasilkan draf video pendek berdurasi 30–60 detik dengan format vertikal yang disiapkan untuk publikasi melalui Instagram Reels atau TikTok.

Praktik ini memperlihatkan bahwa cerita kampung dapat diproduksi dengan peralatan sederhana. Aktivitas sehari-hari warga bisa menjadi konten yang menarik selama dikemas dengan baik, memiliki pesan yang jelas, dan tetap memperhatikan etika publikasi.

Peserta juga diingatkan untuk tidak menyebarkan hoaks, berhati-hati ketika memublikasikan aktivitas warga, serta memastikan adanya persetujuan orang tua untuk unggahan yang menampilkan anak di bawah umur.

KIM dan Literasi sebagai Ruang Belajar Anak Muda

Pembentukan KIM dan Literasi Kampung Yuka menjadi salah satu hasil penting dari pelatihan tersebut. Kelompok ini diharapkan menjadi ruang bagi anak muda untuk belajar bersama, mengembangkan kemampuan komunikasi, dan membangun kebiasaan berbagi informasi yang bermanfaat bagi masyarakat.

Kehadiran kelompok tersebut juga membuka peluang bagi anak muda untuk mengambil peran lebih besar dalam mendokumentasikan kegiatan kampung, mempromosikan potensi lokal, serta menyuarakan persoalan lingkungan dan kebutuhan warga.

Untuk memastikan kelompok ini berjalan, pengurus terpilih merencanakan rapat konsolidasi perdana guna menyusun rencana kerja dan kalender konten media sosial Kampung Yuka. Video hasil praktik juga akan disempurnakan dan dipublikasikan secara bertahap melalui akun resmi Instagram atau TikTok KIM Kampung Yuka.

Gaharu Kalbar selanjutnya akan memberikan pendampingan berkala dalam pengelolaan informasi dan publikasi kegiatan kampung.

Melalui langkah ini, media sosial diharapkan tidak hanya menjadi ruang hiburan atau konsumsi informasi, tetapi juga sarana partisipasi warga dalam membangun kampung.

Anak muda Kampung Yuka kini memiliki kelompok, keterampilan awal, dan sejumlah gagasan untuk mulai bekerja. Tantangan berikutnya adalah menjaga konsistensi kegiatan, menghasilkan konten secara berkelanjutan, serta memastikan KIM dan Literasi tumbuh menjadi ruang belajar bersama yang benar-benar bermanfaat bagi masyarakat.

Dari Kampung Yuka, cerita perubahan bisa dimulai oleh anak muda sendiri. Bukan hanya menceritakan apa yang terjadi di kampung, melainkan juga memperlihatkan apa yang bisa dilakukan bersama untuk membuatnya lebih baik.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *