AJI Pontianak-Gemawan Berkolaborasi Kampanye Pelestarian Mangrove

Kandelia candel, satu dari empat jenis mangrove berstatus langka di dunia yang kini masih dapat kita lihat di Kalimantan Barat. Foto: Rizal Daeng

Kolase.id – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Pontianak bersama Lembaga Gemawan menggagas gerakan kolaborasi kampanye perlindungan Mangrove di Kalimantan Barat.

Ketua AJI Pontianak Ramses Tobing mengatakan bahwa kolaborasi yang digagas bersama Gemawan merupakan bentuk kampanye untuk turut serta dalam upaya menjaga lingkungan, khususnya mangrove.

“Jurnalis punya peran di sana, untuk pelestarian mangrove,” ujarnya Minggu 11 September 2022.

Peran itu misalnya, membangun narasi terkait dengan pelestarian mangrove, atau lainnya melalui media, itu yang kemudian menjadi strategi yang dibagikan kepada kelompok-kelompok yang secara aktif menjaga lingkungan.

“Dalam kolaborasi ini, AJI dan Gemawan saling berbagi peran dan tentu peran itu saling mendukung satu sama lainnya, jadi tidak jalan sendiri-sendiri,” ujar Ramses.

Ramses menjelaskan kolaborasi ini mendekatkan isu lingkungan kepada publik, sebab kecenderungan produk jurnalistik dengan isu-isu lingkungan di Kalbar masih minim dimuat di media-media arus utama.

“Era sosial media dan perkembangan teknologi saat ini, penyampaian narasi perlindungan untuk lingkungan mesti masif dilakukan, misalnya dalam bentuk kampanye melibatkan generasi millenial,” ujarnya.

Sementara itu, Kordiv Advokasi AJI Pontianak sekaligus penanggung jawab program Reinardo Sinaga mengatakan Gemawan merupakan mitra strategis dan penting bagi AJI Pontianak sejak belasan tahun.

Sehingga nilai-nilai kelestarian lingkungan dan demokrasi serta anti-korupsi yang dijalankan Gemawan menjadi selaras dengan nilai-nilai AJI.

“AJI Pontianak kali ini akan berkolaborasi dengan apik dan maksimal untuk mewujudkan nilai tersebut,” ujarnya.

Ia mengatakan untuk program tersebut akan menitik beratkan pada peningkatan kapasitas dalam berliterasi digital khususnya pengelolaan dan perlindungan mangrove di Kalbar khususnya di Kubu Raya, merupakan bentuk dukungan AJI Pontianak bersama Gemawan terhadap pelestarian mangrove.

“Tujuan utamanya menjadikan Kalbar sebagai pusat mangrove dunia, apalagi mangrove di Kalbar adalah yang terlengkap jenisnya di dunia,” ujarnya.

Selain itu, meningkatkan pemahaman generasi post millenial menjadi penting untuk ikut serta menyuarakan perlindungan mangrove serta pemanfaatannya yang sesuai aturan.

Untuk itu AJI Pontianak sangat mengapresiasi langkah kolaborasi ini ke depannya.

Sementara, keberadaan garis pantai di Indonesia mencapai 95.181 kilometer memiliki arti penting bagi Indonesia. Wilayah pesisir dan laut merupakan tempat hidup sekitar 120 juta penduduk Indonesia, sebagian besar kota pun terletak di kawasan pesisir.

Pada kawasan pesisir Indonesia juga habitat mangrove, tanaman yang berperan besar dalam mitigasi perubahan iklim.

Mengutip rilis Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tahun 2015 menyebutkan jumlah total hutan mangrove di Indonesia mencapai 3,49 juta hektar.

“Dengan jumlah itu, Indonesia memiliki peran sangat strategis mengatasi dampak perubahan iklim yang semakin parah ini, ucap Reza, pegiat Gemawan, dalam diskusi informal antara Gemawan dan AJI Pontianak di Rumah Gemawan, Sabtu 10 September 2022.

Ia menerangkan pada 2021 lalu BPSPL melaporkan dari total 177.479,52 hektar luas hutan mangrove yang tersebar di 7 kabupaten/kota pesisir di Kalbar, 16.423 hektar hutan mangrove mengalami kerusakan.

Para peneliti bersepakat bahwa kerusakan ekologi yang berdampak pada perubahan iklim, termasuk kerusakan mangrove lebih banyak disebabkan faktor manusia atau antropogenik.

“Langkah mitigasi yang mendesak dilakukan adalah mengedukasi para pihak menggunakan strategi komunikasi yang terukur,” jelasnya.

Reza menilai jika jika masyarakat mengetahui tentang fungsi mangrove serta kekayaan keanekaragaman mangrove Kalbar, masyarakat dapat tergerak untuk melakukan aksi kolaboratif perlindungan mangrove Kalbar.

“Ruang-ruang publik di Kalbar harus dipenuhi dengan narasi perlindungan mangrove. Itu bisa dilakukan melalui media digital dan media sosial. Kuncinya ada pada komunikasi,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia mengatakan keberhasilan masyarakat Kalbar menjaga kelestarian mangrovenya merupakan kontribusi strategis kita untuk Bumi yang layak bagi anak-cucu di generasi mendatang.

Melalui strategi create, connect, dan collab, saat ini Gemawan berupaya merajut benang-benang kolaborasi dengan berbagai pihak.

“Aksi-aksi kolaboratif ini menjadi jalan menuju Borneo Summit yang sedang digagas Gemawan. Borneo Summit ini kelak diharapkan jadi ajang kolaborasi multi stakeholder untuk mendukung Borneo yang keren, adil, dan berkelanjutan,” tutupnya.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.