Kolase.id — Muhammadiyah Kalbar memperkuat respons kemanusiaan dengan mengintensifkan Pos Koordinasi (Poskor) Penanganan Karhutla di SMA Muhammadiyah 1 Pontianak.
Poskor yang berada di Jalan Parit H. Husin II, samping Masjid Muhammadiyah Al Furqan itu, tidak hanya difungsikan sebagai pusat koordinasi. Muhammadiyah menyiapkannya sebagai Rumah Oksigen, Data dan Media Center, serta pusat penerimaan dan pengelolaan bantuan publik.
Langkah ini menjadi upaya Muhammadiyah memperluas dukungan bagi warga yang terdampak kabut asap, sekaligus membantu relawan yang bekerja di lapangan menghadapi kebakaran hutan dan lahan.
Kepala SMA Muhammadiyah 1 Pontianak, Drs. H. Slamet Rianto, M.Pd., mengatakan sekolah siap membuka fasilitasnya untuk kepentingan masyarakat dalam situasi darurat.
“Sekolah bukan hanya tempat belajar. Dalam situasi seperti ini, sekolah juga harus hadir dan memberi manfaat bagi masyarakat,” kata Slamet, Rabu (3/9/2026).
Menurut dia, keterlibatan sekolah dalam Poskor Karhutla juga menjadi bagian dari pendidikan kemanusiaan bagi para peserta didik.
“Ketika masyarakat menghadapi persoalan, sekolah tidak boleh berdiri sendiri. Ada nilai kepedulian, gotong royong, dan tanggung jawab sosial yang harus kita praktikkan bersama,” ujarnya.
Koordinator Poskor Penanganan Karhutla Muhammadiyah Kalbar sekaligus Ketua Majelis Lingkungan Hidup PWM Kalbar, M. Hermayani Putera, mengatakan penguatan Poskor dilakukan agar informasi, kebutuhan bantuan, logistik, peralatan, relawan, dan masyarakat dapat terhubung lebih cepat.
“Kami ingin Poskor ini menjadi simpul gotong royong. Penanganan karhutla membutuhkan informasi yang tepat dan akurat, suplai logistik dan peralatan pemadaman api yang memadai, serta relawan dan masyarakat yang ingin membantu,” katanya.
Melalui Rumah Oksigen, masyarakat terdampak kabut asap dapat memanfaatkan ruang dengan kualitas udara yang lebih baik. Sementara Data dan Media Center bertugas menghimpun informasi mengenai kondisi lapangan, kebutuhan masyarakat, serta aktivitas relawan agar informasi yang disampaikan kepada publik tetap akurat.
Poskor juga membuka penerimaan bantuan publik berupa vitamin, suplemen, susu, air mineral, makanan, masker, serta kebutuhan lain yang relevan untuk masyarakat terdampak dan relawan di lapangan.
Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Kalimantan Barat Bidang Sosial, Lingkungan Hidup, dan Penanggulangan Bencana, Dr. Ishak Jumarang, M.Si., menegaskan respons terhadap karhutla tidak boleh berhenti pada penanganan dampak ketika kebakaran sudah terjadi.
“Jangan hanya sibuk memadamkan api ketika sudah terjadi. Pencegahan harus diperkuat, masyarakat harus dilindungi, ekosistem harus dipulihkan, dan tata kelola lingkungan harus dibenahi,” tegas Ishak.
Ia menilai karhutla merupakan persoalan bersama yang membutuhkan keterlibatan banyak pihak, mulai dari masyarakat, komunitas, dunia usaha, organisasi, hingga pemerintah.
“Poskor ini adalah bagian dari ikhtiar Muhammadiyah untuk hadir di tengah masyarakat. Kita membantu warga menghadapi dampak kabut asap, tetapi pada saat yang sama kita harus terus mendorong upaya pencegahan dan penanganan karhutla yang lebih serius,” ujarnya.
Muhammadiyah Kalbar pun mengajak masyarakat dan berbagai elemen untuk bergotong royong mendukung kerja Poskor Karhutla.
Bantuan bagi warga terdampak maupun relawan dapat disalurkan melalui Poskor Penanganan Karhutla Muhammadiyah Kalbar di SMA Muhammadiyah 1 Pontianak.*










