KJC 2026: Ubah Narasi Kerusakan Pesisir, Dorong Jurnalisme Berbasis Solusi

Lewat Klinik Jurnalistik KJC 2026, Kolase dan BEM FMIPA Untan Latih Puluhan Jurnalis, Kreator Konten, dan Mahasiswa untuk Mengangkat Praktik Baik Pelestarian Mangrove Pesisir

Avatar
Site Coordinator Yayasan Hutan Biru Noviansyah Putra berbagi cerita sukses dan tantangan pengelolaan ekosistem mangrove dengan para jurnalis dan kreator konten di sesi kunjungan ke Desa Medan Mas, Kecamatan Batu Ampar, Kubu Raya. Foto: Dok. Yayasan Kolase

Kolase.id – Yayasan Kolase bersama BEM FMIPA Universitas Tanjungpura Pontianak melalui Program Kolase Journalist Camp (KJC) 2026 menggelar Klinik Jurnalistik dengan tema Menulis Masa Depan Mangrove Berbasi Solusi.

Klinik Jurnalistik digelar di Gedung Konferensi, Ruang Theater 1, Universitas Tanjungpura pada Kamis (23/7/2026) dan mendapat dukungan dari Yayasan Hutan Biru. Pesertanya berasal dari kalangan jurnalis, kreator konten, dan mahasiswa.

Ketua Yayasan Kolase Andi Fachrizal mengatakan klinik jurnalistik ini adalah salah satu seri kegiatan KJC untuk mendongkrak kapasitas peserta tentang mangrove. “Sejauh ini, produk jurnalistik umumnya hanya bersandar pada masalah kerusakan ekosistem mangrove semata. Sekarang kita coba naikkan levelnya dengan menyodorkan solusi,” katanya di Pontianak, Kamis (23/7/2026).

Pria yang akrab disapa Rizal Daeng ini mengatakan Klinik Jurnalistik KJC 2026 mencoba meruntuhkan dinding pembatas bagi karya jurnalistik tersebut. Peserta akan diajak masuk ke jantung ekosistem pesisir sekaligus mempertajam kepekaan dan keterampilan dalam mengemas data ilmiah serta realitas lapangan menjadi narasi jurnalistik yang memikat, hidup, dan menggerakkan.

Rizal mengatakan pendekatan tersebut penting agar ekosistem mangrove tidak hanya diberitakan dari sisi krisis dan kerusakan, tetapi juga potensi, daya lenting masyarakat, serta praktik baik di tingkat tapak.

Menurut dia, hutan mangrove di pesisir Kalimantan Barat merupakan benteng ekologis yang menyimpan kekayaan keanekaragaman hayati sekaligus menjadi ruang hidup berbagai biota dan masyarakat pesisir.

Namun, realitas di tingkat tapak, termasuk kawasan mangrove Desa Medan Mas, Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Kubu Raya, sering kali belum mendapat perhatian publik secara memadai karena pemberitaan lebih banyak berfokus pada kerusakan lingkungan.

Ia mengatakan Yayasan Kolase bersama BEM F-MIPA Universitas Tanjungpura ingin mendorong perubahan cara pandang dalam pemberitaan isu lingkungan dengan menjadikan jurnalisme berbasis solusi sebagai pendekatan dalam mengawal kelestarian pesisir.

Sementara itu, Ketua Panitia KJC 2026 Rendra Oxtora mengatakan kegiatan tersebut menjadi sumbangsih para penggiat lingkungan dalam memperingati Hari Mangrove Internasional yang bertujuan mengasah keterampilan jurnalis, kreator konten, dan mahasiswa dalam mengemas data ilmiah tentang mangrove menjadi produk jurnalistik dan konten yang menarik serta berdampak.

“Kami juga ingin memperkenalkan pendekatan jurnalisme berbasis solusi dalam peliputan isu lingkungan, khususnya ekosistem pesisir, sekaligus membangun jejaring antara praktisi media, aktivis lingkungan, dan akademisi,” katanya.

Klinik Jurnalistik KJC-2026 dilaksanakan Kamis (23/7) di Gedung Konferensi, Ruang Theater 2, Universitas Tanjungpura Pontianak, dengan melibatkan 40 peserta yang terdiri atas 10 jurnalis atau pekerja media, delapan kreator konten, dan 22 mahasiswa.

Kegiatan tersebut menghadirkan fasilitator dari The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) Simpul Kalimantan Barat, Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Kalimantan Barat, dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Pontianak.

Narasumber dari Yayasan Hutan Biru masing-masing Wahyuddin (online) dan Noviansyah Putra memberikan materi mengenai pemahaman ekosistem mangrove dan tantangan pengelolaannya serta Impact Stories Product yang mengangkat cerita dan praktik baik pengelolaan ekosistem mangrove di tingkat tapak.

Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Fakultas MIPA Untan Tedy Rismawan menyambut baik kolaborasi tersebut karena dapat mempertemukan dunia akademik, media, dan gerakan lingkungan dalam mengangkat isu kelestarian mangrove kepada masyarakat luas.

“Selama ini semua pihak berjalan masing-masing dalam menanggapi isu lingkungan. Kami menyambut baik kolaborasi ini karena hasil akademik dapat diterapkan dan dikolaborasikan dengan jurnalis agar bisa dipublikasikan kepada masyarakat,” katanya.

Melalui kolaborasi tersebut, KJC-2026 diharapkan melahirkan karya jurnalistik dan konten yang tidak hanya menyampaikan persoalan kerusakan mangrove, tetapi juga menghadirkan solusi dan praktik baik untuk menjaga benteng hijau pesisir Kalimantan Barat tetap lestari.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *