Kaum Laki-Laki Pontianak Belajar Jadi Ayah Hebat dan Penjaga Bumi di Sekolah Bumi Calon Ayah

Hadirkan 19 peserta untuk belajar mendobrak stigma domestik, menjadi mitra setara dalam keluarga, dan pelopor peduli bumi.

Avatar
Suasana Sekolah Bumi Calon Ayah di Aula SD Muhammadiyah 2 Pontianak. Foto: Dok. Eco Bhinneka Muhammadiyah

Kolase.id – Sebanyak 19 peserta yang terdiri dari calon ayah, ayah muda, serta tokoh masyarakat mengikuti kegiatan Sekolah Bumi Calon Ayah yang diselenggarakan di Aula SD Muhammadiyah 2 Pontianak, Kota Pontianak. Kegiatan ini menjadi ruang belajar bersama bagi kaum laki-laki untuk bertransformasi menjadi ayah yang bertanggung jawab, mitra setara dalam keluarga, serta agen perubahan bagi lingkungan.

Sekolah Bumi Calon Ayah merupakan kelanjutan dari rangkaian Sekolah Bumi yang sebelumnya menghadirkan Sekolah Bumi Calon Ibu. Program ini dirancang untuk membekali laki-laki agar mampu terlibat aktif dalam pengasuhan anak, membangun pembagian peran domestik yang adil, serta mempraktikkan gaya hidup rendah karbon demi masa depan generasi mendatang.

Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh masih kuatnya anggapan bahwa kesejahteraan keluarga merupakan tanggung jawab perempuan semata. Padahal, keterlibatan aktif laki-laki sebagai ayah dan suami merupakan kunci terciptanya keluarga yang sejahtera dan setara. Selain itu, pola konsumsi dan gaya hidup keluarga juga berkontribusi terhadap krisis iklim, sehingga laki-laki sebagai pengambil keputusan dalam rumah tangga memiliki peran penting dalam menentukan arah kehidupan keluarga yang lebih berkelanjutan.

Dalam sambutannya, Bunda Hening Parlan selaku Direktur Eco bhinneka Muhammadiyah menyoroti masih tingginya angka kekerasan terhadap perempuan. Ia menyampaikan bahwa sekitar 350 juta perempuan atau 41 persen perempuan di 14 negara pernah mengalami kekerasan fisik, kekerasan dalam rumah tangga, maupun kekerasan seksual.

Menurutnya, terdapat tiga hal penting yang perlu menjadi perhatian bersama, yaitu mengubah cara pandang tentang relasi dalam keluarga, membangun peran laki-laki yang saling memahami dan mengerti, serta tidak mengalihkan persoalan keluarga kepada hal-hal negatif, seperti jeratan pinjaman online.

“Keluarga adalah madrasah pertama. Keluarga adalah harapan. Keluarga adalah cinta, dan keluarga adalah masa depan,” ungkapnya.

Focal Point SMILE Eco Bhinneka Muhammadiyah Pontianak Octavia Shinta menjelaskan bahwa Sekolah Bumi Calon Ayah hadir untuk membekali laki-laki agar menjadi agen perubahan dalam pengasuhan anak serta membuka wawasan baru sehingga pola pikir yang diperoleh dapat membawa perubahan nyata dalam kehidupan keluarga.

Pesan tentang kepedulian terhadap lingkungan juga disampaikan oleh Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Wasilun. Ia mengajak seluruh peserta untuk menyadari bahwa merawat bumi adalah tanggung jawab setiap orang yang dapat dimulai dari lingkungan keluarga melalui kebiasaan-kebiasaan sederhana yang ramah lingkungan.

Sementara itu, perwakilan Kementerian Agama Kota Pontianak Ruslan mengingatkan bahwa calon ayah tidak hanya bertugas mencari nafkah, tetapi juga perlu bekerja sama dengan istri dan anak dalam membangun keluarga yang harmonis dan bertumbuh bersama.

Ragam Perspektif, Satu Misi Kasih

Keberagaman menjadi kekuatan utama dalam kegiatan ini. Para tokoh agama berbagi nilai-nilai universal mengenai makna menjadi seorang ayah.

Dari perspektif Konghucu, Js. Adi Sucipto menyampaikan konsep an he jia ting yang mengajarkan bahwa keharmonisan keluarga tidak berhenti di dalam rumah, tetapi berdampak hingga hubungan manusia dengan sesama dan alam semesta.

Perwakilan Kristen, Pdt. Dr. Syahdin L. Nyarong, mengingatkan bahwa “nafsu tidak boleh melebihi iman”. Menurutnya, menjadi ayah bukan hanya tentang memimpin keluarga, tetapi juga menghadirkan kasih melalui kehadiran, kesediaan mendengar, dan kemampuan mengasihi tanpa syarat.

Dari perspektif Buddha, Pandita Liliyana mengangkat ajaran Sigalovada Sutta sebagai pedoman kehidupan berumah tangga. Keluarga harmonis lahir dari saling menghormati, mendukung, dan kesediaan untuk tumbuh bersama dengan bekal nilai saddha (keyakinan), sila (moralitas), caga (kemurahan hati), khanti (kesabaran), dan panna (kebijaksanaan).

Perwakilan Hindu, Kompol Purn. I Wayan Sudiyana, menjelaskan bahwa pada fase grahasta atau memasuki kehidupan berumah tangga, seseorang tidak hanya mempersiapkan diri secara materi, tetapi juga mempersiapkan iman, ilmu, dan amal sebagai fondasi kehidupan keluarga.

Dari perspektif Islam, K.H. Muhammad Azman Alka, M.Ag. mengutip hadis Nabi Muhammad SAW bahwa, “Barangsiapa yang siap menikah maka nikahkanlah.” Kesiapan tersebut tidak hanya dimaknai sebagai kesiapan materi, tetapi juga kesiapan mental, emosional, serta tanggung jawab dalam membina keluarga. Konsep kepemimpinan dalam Islam diwujudkan melalui Uswatun Hasanah (keteladanan yang baik), tanggung jawab, kedekatan kepada Allah, serta kemampuan menyerahkan segala urusan kepada-Nya.

Sementara itu, dari perspektif Katolik, Dr. E. Maran, S.E., M.M. menegaskan bahwa seorang ayah dipanggil untuk menghadirkan kasih, perlindungan, keteladanan, dan bimbingan iman bagi pasangan serta anak-anaknya. Dalam sesi talkshow, beliau juga menekankan pentingnya membangun komunikasi yang sehat dalam keluarga, termasuk memahami bahwa pengelolaan keuangan suami dan istri merupakan tanggung jawab bersama demi kesejahteraan keluarga. Seorang ayah juga dipanggil untuk berdoa bersama keluarganya.

Membentuk Pemimpin Iklim dari Meja Makan

Melalui sesi talkshow lintas iman, para narasumber kembali menegaskan bahwa keluarga yang sehat dibangun melalui komunikasi, keteladanan, kerja sama, penghormatan, kesabaran, dan cinta kasih. Ayah dipandang bukan sekadar pencari nafkah, melainkan figur yang membimbing, mendengar, memahami, melindungi, serta hadir secara utuh bagi keluarganya.

Sesuai dengan tujuan Sekolah Bumi Calon Ayah, kegiatan ini diharapkan mampu mendorong perubahan pola pikir laki-laki tentang pentingnya pembagian peran domestik yang adil, memperkuat tanggung jawab ekologis di tingkat keluarga, serta membangun solidaritas laki-laki untuk menjadi pelopor perubahan dalam mewujudkan keadilan gender dan keberlanjutan lingkungan.

Hasil yang diharapkan dari kegiatan ini adalah terinternalisasinya nilai-nilai peran setara, tumbuhnya kepemimpinan iklim di rumah tangga, serta terbentuknya dukungan antarlaki-laki untuk mempraktikkan nilai-nilai ayah yang peduli bumi dan keluarga.

Sekolah Bumi Calon Ayah menjadi pengingat bahwa membangun masa depan tidak cukup hanya melalui pembangunan fisik, tetapi juga melalui penguatan keluarga. Dari keluarga yang setara akan lahir anak-anak yang tumbuh dalam kasih. Dari keluarga yang peduli terhadap sesama dan bumi akan tumbuh generasi yang bertanggung jawab dan berdaya.

Hari ini, para peserta menemukan pesan yang sama: seorang ayah bukan hanya pencari nafkah, tetapi juga pendidik, pelindung, teladan, mitra bagi pasangan, sumber kasih bagi anak-anak, serta penjaga bumi bagi generasi mendatang.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *