Kolase.id — Pasangan ganda campuran Dejan Ferdinansyah/Apriyani Rahayu memastikan langkah ke final POLYTRON Pontianak International Challenge 2026 setelah melewati laga semifinal dramatis melawan wakil Chinese Taipei, Bo-Yuan Chen/Yan Fei Chen.
Bertanding di GOR Terpadu Ahmad Yani, Pontianak, Kalimantan Barat, Sabtu (29/8/2026), Dejan/Apriyani harus kehilangan gim pertama sebelum bangkit dan mengunci kemenangan dengan skor 11-21, 21-10, 21-10.
Dejan mengakui pasangan Chinese Taipei tampil agresif sejak awal pertandingan. Kondisi shuttlecock yang terasa berat juga membuat mereka membutuhkan waktu untuk beradaptasi.
“Di game pertama kondisi lapangan ada perbedaan, kondisi bola tadi agak berat jadi butuh adaptasi dulu. Serangan mereka cukup kuat sehingga kami mengalami sedikit kesulitan di awal,” ujar Dejan.
Namun, pasangan Indonesia tersebut segera menemukan solusi pada gim kedua. Dejan/Apriyani mengubah pola permainan dan lebih siap menghadapi tekanan serangan lawan.
“Di game kedua kami sudah antisipasi dan lebih siap menghadapi serangan lawan. Ini jadi modal di game ketiga dan membuat kami lebih yakin untuk menang,” katanya.
Salah satu kunci kebangkitan Dejan/Apriyani adalah penerapan strategi yang diberikan pelatih. Mereka diminta menghindari permainan lob panjang yang justru dapat membuka ruang bagi lawan untuk melancarkan serangan.
“Lawan memiliki serangan kuat, jadi pelatih memberikan arahan untuk bermain no lob panjang dan akhirnya membuahkan hasil,” ujar Dejan.
Dejan menyebut perbedaan karakter lawan juga menjadi tantangan tersendiri. Dalam dua hari sebelumnya, mereka lebih sering menghadapi sesama wakil Indonesia.
“Dari kemarin kami sering bertemu teman sendiri, hari ini ketemu beda negara, dengan pola berbeda membuat kami agak kaget,” tuturnya.
Puji Atmosfer Pertandingan di Pontianak
Selain performa di lapangan, Dejan juga memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan POLYTRON Pontianak International Challenge 2026. Menurutnya, atmosfer turnamen di Pontianak sangat istimewa, terutama berkat dukungan penonton.
“Saya rasa sekelas International Challenge ini penyelenggaraannya mewah dibandingkan dengan negara lain. Penonton dan warga Pontianak memberikan dukungan luar biasa untuk atlet-atlet Indonesia,” kata Dejan.
Dukungan tersebut, lanjut dia, menjadi tambahan energi bagi para pemain yang bertanding.
“Itu menambah semangat buat kami, dan kami sangat berterima kasih,” ujarnya.
Sementara itu, Apriyani Rahayu mengatakan kondisi shuttlecock menjadi salah satu faktor yang membuat mereka kesulitan pada gim pertama.
“Kami merasa shuttlecock-nya agak lambat, jadi di game pertama belum dapat feeling-nya,” kata Apriyani.
Setelah melakukan penyesuaian, Dejan/Apriyani mulai mampu mengendalikan permainan. Komunikasi yang lebih baik serta perubahan pola bermain sesuai instruksi pelatih menjadi kunci kemenangan mereka.
“Akhirnya game kedua kami coba ubah pola main sesuai instruksi pelatih dan komunikasi dengan baik. Akhirnya kami bisa unggul sampai game ketiga,” ujarnya.
Menghadapi laga berikutnya, Apriyani memilih fokus pada pemulihan agar dapat tampil maksimal.
“Untuk selanjutnya pastinya kami akan recovery, makan dan istirahat dengan baik, juga jaga pikiran,” katanya.
Apriyani juga memberikan pesan kepada para pebulutangkis muda di Pontianak dan seluruh Indonesia agar terus berjuang mengembangkan kemampuan.
“Untuk para atlet di Pontianak dan seluruh Indonesia tetap semangat, rajin berlatih. Semoga bisa terus berkembang lebih baik lagi,” tutupnya.*












