Sinergi Warga Desa Medan Mas Menjaga Pesisir dan Menghidupkan Roda Ekonomi

Kisah inspiratif tentang ketegasan menjaga 182 hektare hutan mangrove, kreativitas mengolah limbah plastik, perjuangan memangkas stunting, hingga suksesnya UMKM amplang menembus pasar daerah

Avatar
Desa Medan Mas, Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Kubu Raya, Kalbar. Foto: Dok. Blue Ventures

Kolase.id – Denyut nadi kehidupan Desa Medan Mas tengah mengalami transformasi besar. Desa termuda di Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Kubu Raya ini perlahan bangkit, mendobrak keterbatasan geografis yang jauh dari pusat kota, dan mengubah tantangan alam menjadi peluang yang menghidupkan.

Kolaborasi strategis bersama lembaga swadaya masyarakat seperti Yayasan Hutan Biru (Blue Forest) dan Blue Ventures sejak tahun 2023 menjadi pemantik utama yang membakar semangat keswadayaan masyarakat.

Perubahan ini tidak terjadi dalam semalam. Desa Medan Mas menempuh jalan panjang dan berliku. Mulai dari meluruskan salah paham warga mengenai pentingnya konservasi, menghadapi kerasnya penolakan terhadap layanan kesehatan modern, hingga menyiasati keterbatasan modal dan rusaknya fasilitas akibat hantaman banjir air asin.

Namun, alih-alih menyerah pada keadaan, kepemimpinan desa yang visioner bersama kelompok-kelompok masyarakatnya, justru melahirkan sinergi yang luar biasa. Ketika kelestarian alam, kesehatan keluarga, dan kemandirian ekonomi bergerak dalam satu irama, mukjizat-mukjizat kecil mulai tercipta di tingkat tapak.

Berikut adalah catatan jurnalistik dari tim redaksi Kolase setelah menempuh perjalanan ke Desa Medan Mas, Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Kubu Raya, Kalbar, pada 31 Mei 2026. Untaian kisah perjuangan warga di desa berpenduduk 1.154 jiwa ini terekam dalam 4 bingkai cerita.

Mulai dari ketegasan aparat desa dalam menjaga benteng hijau pesisir, kreativitas pemuda mengubah buah bakau menjadi ladang rupiah, kegigihan kaum ibu memotong rantai stunting, hingga kisah inspiratif para perempuan penggerak yang berhasil menyulap limbah dan potensi laut menjadi penopang utama ekonomi keluarga.

Ketegasan Dharma Wira Lindungi 182 Hektare Mangrove Lewat Perdes

Kepala Desa Medan Mas Dharma Wira gelisah melihat maraknya aktivitas penebangan liar di wilayahnya. Orang-orang dari luar desa kerap menyusup ke dalam hutan pesisir, menumbangkan pohon-pohon mangrove untuk bahan bakar kayu, bahkan memburu satwa langka seperti bekantan dan burung dilindungi.

Kepala Desa Medan Mas Dharma Wira. Foto: Rizal Daeng/Kolase.id

Menyadari desa termuda di Kecamatan Batu Ampar ini tidak memiliki kewenangan mengeksekusi hukum pidana, Dharma mengambil langkah taktis. Ia menerbitkan Peraturan Desa (Perdes) Nomor 7 Tahun 2024 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove di Desa Medan Mas Kecamatan Batu Ampar Kabupaten Kubu Raya yang secara khusus melindungi kawasan hutan mangrove seluas 182 hektare.

Untuk menegakkan aturan tersebut, Dharma membentuk tim Smart Patrol yang beranggotakan 20 orang warga lokal. Setiap bulan, tim ini menyisir kawasan hutan, mengawasi pergerakan mencurigakan, dan memberikan edukasi langsung kepada pelanggar.

Sinergi ini kian kuat ketika lembaga swadaya masyarakat seperti Blue Ventures dan Blue Forest masuk pada tahun 2023. Meski awalnya sempat menghadapi penolakan dari warga karena ketidaktahuan, kehadiran para mitra lingkungan ini justru memicu pembentukan Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) untuk menjaga area perairan desa.

Kini, Pemerintah Desa Medan Mas melarang keras penggunaan racun atau alat tangkap tidak ramah lingkungan demi melindungi habitat udang dan kepiting. Sebagai solusi pengganti bagi warga yang dulu menebang pohon untuk membuat kapal, Dharma mengarahkan nelayan beralih menggunakan bahan fiberglass yang lebih ramah lingkungan. Kebutuhan dapur pun kini terpenuhi lewat gas LPG yang sudah masuk ke desa.

Langkah pelestarian ini juga menyasar generasi muda melalui pendirian Learning Center (Pusat Pembelajaran) yang memasukkan materi mangrove ke dalam kurikulum muatan lokal sekolah. Guna mengantisipasi berakhirnya masa pendampingan NGO, Dharma mengunci keberlanjutan program ini dengan mengalokasikan sebagian Dana Desa ke dalam APBDes, sembari merajut mimpi membangun fasilitas tracking mangrove sebagai destinasi ekowisata masa depan.

Asri Afif Pimpin Pokdarwis Sulap Buah Bakau Jadi Kue Pia dan Raih Juara Wisata

Asri Afif tidak mau tinggal diam melihat hutan mangrove di desanya terus dijarah oleh pembalok liar. Pada tahun 2022, ia menginisiasi pembentukan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Medan Mas untuk mengalihkan ketergantungan ekonomi masyarakat dari menebang pohon ke sektor pariwisata.

Prinsip kegotongroyongan yang tetap terjaga di Desa Medan Mas. Foto: Dok. Pemdes Medan Mas

Langkah penyelamatan ini mendapat gayung bersambut dari Yayasan Hutan Biru (Blue Forest) yang langsung mengucurkan serangkaian pelatihan intensif kepada para kader Pokdarwis.

Hasilnya berbuah manis. Asri bersama anggota Pokdarwis berhasil menularkan ilmu pemanfaatan hasil hutan non-kayu kepada warga sekitar. Mereka kini terampil mengolah tumbuhan pesisir yang dulunya terabaikan menjadi produk kuliner bernilai ekonomi tinggi, seperti teh herbal dari daun jeruju, serta sirup segar dan kue pia gurih yang memanfaatkan buah bakau.

Tak hanya di sektor kuliner, Pemerintah Desa Medan Mas juga ikut menyuntikkan modal melalui Bumdes berupa fasilitas kano dan sepeda air (bebek engkol) untuk memajukan wahana wisata edukasi mangrove.

Letak geografis desa yang jauh dari pusat kota sempat membuat angka kunjungan sepi. Namun Asri menyiasatinya dengan gencar melakukan promosi digital melalui media sosial. Kerja keras kelompok ini berbuah manis saat Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Kubu Raya menganugerahkan predikat Juara 3 Lomba Desa Wisata tingkat kabupaten kepada Desa Medan Mas.

Keunikan produk makanan lokal dan keramahan warga menjadi poin keunggulan utama. Demi menjaga keberlanjutan roda organisasi, Asri telah mengamankan program pengembangan wisata alam ini ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes) untuk jangka waktu 5 tahun ke depan.

Siasat Doorprize Emy Widyawati Tekan Stunting dan Dorong Suami Antar Anak ke Posyandu

Ketua TP-PKK Desa Medan Mas Emy Widyawati menghadapi tembok tebal saat pertama kali bertekad memangkas angka stunting di desanya. Kala itu, belasan anak mengalami kekurangan gizi kronis karena rendahnya kepedulian orang tua.

Banyak warga lokal yang menolak kedatangan petugas dari rumah ke rumah (door-to-door), mengusir kader PKK, dan lebih memilih pengobatan tradisional menggunakan ramuan daun-daunan ketimbang membawa anak mereka ke Posyandu.

Ketua Tim Penggerak PKK Desa Medan Mas Emy Widyawati. Foto: Rizal Daeng/Kolase.id

Emy memutar otak dan mengubah strategi pendekatan menjadi lebih humanis. Ia melarang para kader menggunakan istilah “stunting” agar tidak menyinggung perasaan orang tua, lalu menggantinya dengan fokus edukasi perbaikan gizi.

Demi menarik minat warga, Emi menyiapkan doorprize menarik bagi siapa saja yang rajin memeriksakan bayinya. Siasat unik ini sukses besar. Kesadaran baru tumbuh di tingkat keluarga, bahkan para bapak di Desa Medan Mas kini tidak lagi canggung mengantarkan sendiri anak-anak mereka ke meja Posyandu.

Langkah PKK semakin mantap berkat dukungan Blue Ventures dan Yayasan Hutan Biru sejak tahun 2023. Kedua NGO tersebut melatih para ibu mengolah sumber protein laut, seperti ikan dan udang, menjadi makanan yang digemari anak-anak. Jika dulu menu gizi yang dibuat PKK terasa membosankan, kini mereka terampil memproduksi nugget ikan yang higienis dan lezat.

Walau kebun tanaman obat keluarga (Toga) yang mereka rintis sempat hancur diterjang banjir air asin (rob), Emy memastikan seluruh kader PKK telah menguasai metode pengelolaan gizi secara mandiri. Mereka berkomitmen penuh menjaga kesehatan anak-anak, yang rantai pasok proteinnya bergantung langsung pada kelestarian laut desa.

Dari Omzet 10 Kilo ke 3 Ton Amplang Tenggiri, Ayu Veronika Sukses Biayai Anak Kuliah

Bagi Ayu Veronika, kualitas adalah harga mati yang tidak bisa ditawar. Sejak merintis usaha amplang pada tahun 2013, ibu rumah tangga di Desa Medan Mas ini konsisten menggunakan bahan baku utama berupa ikan tenggiri segar.

Ayu Veronika yang berhasil mendongkrak pundi-pundi perekonomian rumah tangganya melalui usaha amplang dari bahan baku ikan tenggiri. Foto: Rizal Daeng/Kolase.id

Ayu pernah bereksperimen mengganti bahan baku dengan ikan buntu-buntu atau udang demi mengejar keuntungan. Namun ia mendapati tekstur amplangnya menjadi keras dan warnanya menguning. Ayu pun kembali pada ikan tenggiri yang menjamin warna putih bersih dan kerenyahan yang awet, meski harganya di pasaran kerap melonjak mahal.

Prinsip teguh ini membawa bisnis rumahan Ayu melesat tajam. Pada momentum menjelang Lebaran awal tahun 2026, Ayu mencatat rekor penjualan fantastis dengan memasarkan 3 ton amplang sekaligus ke berbagai daerah, termasuk Kota Pontianak dan Kabupaten Sanggau.

Omzet besar ini tidak hanya menopang dapur keluarganya, tetapi juga berhasil membiayai kuliah anaknya di Pontianak. Untuk mengamankan pasokan ikan dari gangguan cuaca, Ayu menerapkan sistem pemesanan dini langsung kepada para nelayan lokal seminggu sebelum produksi massal dimulai.

Perkembangan UMKM yang menaungi 10 anggota istri petani lokal ini mendapat dorongan kuat dari pendampingan Yayasan Hutan Biru dan Blue Ventures sejak tahun 2023. Lewat kemitraan tersebut, Ayu menyerap ilmu manajemen bisnis, mulai dari pembukuan keuangan yang rapi, strategi pemasaran personal, hingga berhasil mengantongi Sertifikasi Halal resmi setelah sebelumnya mengurus izin P-IRT secara mandiri.

Keberhasilan ekonomi ini berjalan selaras dengan pulihnya lingkungan pesisir desa, di mana Ayu merasakan langsung dampak positif dari kesadaran warga yang kini mencapai 90 persen dalam mematuhi aturan perlindungan hutan mangrove.

Belajar Mandiri via YouTube, Normah dan Ibu-Ibu Poksamas Ubah Sampah Plastik Jadi Uang

Banjir air pasang yang kerap melanda Desa Medan Mas selalu menyisakan pemandangan buruk. Tumpukan sampah plastik yang berserakan di jalanan dan menyumbat aliran sungai adalah fakta yang tak terbantahkan.

Gerah melihat siklus kotor tersebut, Normah (43) bersama belasan warga sepakat membentuk Kelompok Pengolah Sampah Desa Medan Mas (Poksamas) pada tahun 2021. Bersama Yayasan Hutan Biru, mereka mulai bergerak memungut limbah rumah tangga dan mengedukasi warga dari rumah ke rumah.

Kelompok Pengolah Sampah Medan Mas (Poksamas) sedang mengolah limbah plastik menjadi produk bernilai ekonomi. Foto: Rizal Daeng/Kolase.id

Normah dan 16 anggota Poksamas tidak mendapatkan keahlian menganyam dari pelatihan formal, melainkan dari inisiatif belajar mandiri melalui video YouTube. Mereka menerapkan proses produksi yang sangat telaten: menyortir kemasan deterjen dan pewangi berdasarkan warna agar menghasilkan motif tas yang estetik, menggunting, mencuci bersih, menjemur, hingga melipat bahan anyaman di sela-sela waktu luang pada malam hari.

Produk kreatif berupa tas belanja dan tempat tisu ini mereka jual dengan harga Rp40.000 hingga Rp60.000 per unit. Gerakan ini sukses mengubah total perilaku warga, membuang satu lembar plastik kini terasa seperti membuang uang, bahkan anak-anak kecil kini gemar memunguti sampah untuk diserahkan ke Poksamas.

Langkah Poksamas saat ini sedikit terhambat di sektor hilir karena letak geografis desa yang jauh dari kota membuat produk anyaman kerap menumpuk di gudang penyimpanan. Kendati, mereka sudah mengoptimalkan promosi lewat Facebook dan WhatsApp. Bisnis pengolahan sabut kelapa menjadi cocopeat menggunakan mesin bantuan dari YHB juga terhenti total akibat kerusakan komponen gigi mesin yang sering copot.

Namun, kendala itu tidak memadamkan semangat Normah. Memanfaatkan posisinya sebagai kader kesehatan di desa yang kini menerapkan sistem Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP), Normah terus mengampanyekan pentingnya mengolah sampah demi mencegah sarang nyamuk dan menjaga kualitas kesehatan lingkungan pesisir secara mandiri.

Menjura Harapan di Ujung Jalan

Rangkaian aksi nyata di Desa Medan Mas kini telah meletakkan fondasi yang kukuh bagi masa depan pesisir Batu Ampar. Namun, warga menyadari bahwa babak baru yang sesungguhnya baru saja dimulai.

Seiring dengan berakhirnya masa program pendampingan dari Yayasan Hutan Biru (YHB) dan Blue Ventures (BV) melalui Blue Action Fund Project, desa ini kini berdiri secara mandiri di atas kaki mereka sendiri. Estafet perjuangan sepenuhnya beralih ke tangan masyarakat lokal.

Desa Medan Mas kini terus berbenah, berharap Pemerintah Kabupaten Kubu Raya dan Pemerintah Provinsi Kalbar mencurahkan perhatiannya pada desa termuda di Kecamatan Batu Ampar ini. Foto: Dok. Blue Ventures

Harapan besar kini membubung tinggi di sela-sela rimbunnya 182 hektare hutan mangrove yang telah mereka amankan. Pemerintah Desa bersama Pokdarwis, PKK, Poksamas, dan Pokmaswas tidak lagi memandang konservasi sebagai program titipan pihak luar, melainkan sebagai kebutuhan dasar untuk bertahan hidup.

Lewat integrasi program ke dalam RPJMDes dan dukungan APBDes, warga menaruh harapan agar fasilitas tracking mangrove yang mereka impikan dapat segera terwujud, sehingga kawasan konservasi ini benar-benar menjelma menjadi pusat ekowisata dan edukasi unggulan di Kalimantan Barat.

Di sudut-sudut rumah produksi, para ibu rumah tangga seperti Ayu dan Normah tetap menggantungkan asa agar produk anyaman limbah deterjen serta amplang tenggiri mereka bisa menembus pasar yang lebih luas dan reguler, bukan lagi sekadar pesanan musiman.

Mereka juga berharap adanya uluran tangan berkelanjutan dari pemerintah kabupaten maupun provinsi, terutama dalam membantu perbaikan mesin pengolah sabut kelapa yang rusak serta membuka akses pasar digital yang lebih luas untuk mengatasi kendala geografis.

Bagi warga Desa Medan Mas, kepergian para pendamping NGO bukanlah sebuah akhir, melainkan sebuah kelulusan. Ilmu pengelolaan gizi, manajemen keuangan, teknik patroli hutan, hingga keterampilan menganyam yang telah tertanam akan terus dirawat dan direplikasikan secara turun-temurun.

Mereka berkomitmen penuh untuk membuktikan bahwa sebuah desa muda di tepian laut mampu menjaga benteng alam pemberian Tuhan, sekaligus memastikan dapur keluarga mereka tetap mengepul demi masa depan generasi penerus yang lebih sehat, cerdas, dan sejahtera.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *