Kolase.id — Program Blue Forest melalui pendanaan dari Blue Action Fund (BAF) berhasil merehabilitasi 100 hektare mangrove di Kalimantan Barat selama kurun waktu lima tahun.
Program tersebut tidak hanya memulihkan ekosistem pesisir, tetapi juga memperkuat mata pencaharian masyarakat dan mendorong pengelolaan sumber daya perikanan secara berkelanjutan.
Timor-Leste Country Director Blue Ventures, Bernardete Fonseca, mengatakan rehabilitasi 100 hektare mangrove itu berpotensi menyerap sekitar 600 hingga 800 ton CO2e setiap tahun.
“Melalui kerja sama dari berbagai pihak, kita berhasil merehabilitasi 100 hektare mangrove yang berpotensi memberikan manfaat iklim melalui penyerapan sekitar 600 hingga 800 ton CO2e setiap tahun,” kata Bernardete dalam Diseminasi Penutupan Program Blue Forests di Pontianak, Kamis (20/8/2026).
Menurut Bernardete, keberhasilan program tidak cukup diukur dari luas mangrove yang berhasil direhabilitasi. Kesadaran masyarakat untuk menjaga ekosistem pesisir juga menjadi indikator penting.
Program yang diimplementasikan melalui konsorsium Yayasan Hutan Biru, Blue Ventures, dan Yayasan Planet Indonesia (YPI) tersebut turut memberikan manfaat ekonomi kepada 2.162 individu di Kubu Raya dan Kepulauan Karimata, Kabupaten Kayong Utara, melalui berbagai inisiatif penguatan rantai nilai. Jumlah penerima manfaat itu jauh melampaui target awal sebanyak 650 individu.
Salah satu inisiatif ekonomi berbasis mangrove dikembangkan melalui produk Teh Jeruju. Pendampingan mencakup pengembangan produk, uji rasa, hingga promosi dan perluasan pasar. Produk tersebut mulai diperkenalkan melalui sejumlah kafe lokal di Kota Pontianak.
“Ini menunjukkan bahwa mangrove tidak hanya memiliki nilai ekologis, tetapi juga dapat memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat,” ujar Bernardete.
Di sektor perikanan, pemantauan program menunjukkan hasil positif di kawasan perlindungan. Kepiting yang hidup di kawasan tersebut memiliki berat rata-rata 16 persen lebih besar dan panjang rata-rata 7,5 persen lebih tinggi dibandingkan kepiting di kawasan yang terbuka untuk penangkapan.
Bernardete menilai temuan itu menunjukkan bahwa perlindungan kawasan dapat memberikan ruang bagi sumber daya perikanan untuk berkembang sekaligus menopang penghidupan masyarakat pesisir.
Program Blue Forest juga memperkuat keterlibatan perempuan dalam konservasi melalui Kelompok Srikandi Bekantan di Desa Mengkalang Jambu.
Kelompok tersebut melakukan patroli hutan setiap bulan, mendorong penerapan aturan konservasi di tingkat desa, serta memperkuat peran perempuan dalam menjaga keanekaragaman hayati dan tata kelola sumber daya alam.
Selama lima tahun pelaksanaan, Program Blue Forests mencakup sembilan desa di Kabupaten Kubu Raya dan dua desa di Kepulauan Karimata, Kabupaten Kayong Utara.
Program tersebut kini resmi berakhir. Namun, Bernardete berharap masyarakat dan para pemangku kepentingan tetap melanjutkan praktik baik yang telah dibangun selama program berlangsung.
“Meskipun program Blue Forest secara resmi akan ditutup, kami berharap semangat kemitraan, pembelajaran, dan praktik-praktik baik yang telah dibangun dapat terus dilanjutkan dan dikembangkan,” katanya.
Menurutnya, berbagai fondasi yang dibangun selama lima tahun dapat menjadi modal untuk mendorong pembangunan berkelanjutan di Kubu Raya, terutama dalam menjaga ekosistem pesisir sekaligus memperkuat penghidupan masyarakat.
Dengan demikian, rehabilitasi mangrove tidak berhenti pada penanaman dan pemulihan tutupan vegetasi. Program tersebut menunjukkan bahwa perlindungan ekosistem pesisir dapat berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi dan tata kelola sumber daya oleh masyarakat.*












