Ia hafal betul bagaimana penyu merayap dari gelapnya samudra, mengais pasir dengan kepakan siripnya, hingga kembali menghilang ke dalam buih ombak setelah menunaikan tugas generasinya.
Pengalaman panjang itu meleburkan batas antara sekadar menjalankan program kelompok dengan panggilan nurani. Ada denyut kehidupan yang sepenuhnya bergantung pada kesehatan pesisir ini.
“Ketika melihat penyu datang dan bertelur, kami merasa ada tanggung jawab untuk memastikan proses itu berlangsung tanpa gangguan,” ujarnya.
Kalimat itu merangkum alasan kuat mengapa para anggota Wahana Bahari rela mengabaikan malam dan tidur mereka. Di saat dunia terlelap, mereka memilih siaga: menunggu, mengamati, mencatat, dan menjaga.
Bukan untuk merengkuh keuntungan dari satwa dilindungi itu, melainkan memastikan tangan-tangan manusia tidak merusak ruang hidup ketika alam tengah merajut siklusnya.
Penyu Membawa Mereka Menjaga Lebih dari Pantai
Semakin dalam melangkah di jalan konservasi, Wahana Bahari menyadari satu hal mendasar. Penyu mustahil dipisahkan dari ekosistem tempatnya bernapas. Menjaga satwa ini berarti merawat seluruh simpul kehidupan di sekitarnya.

Langkah mereka pun meluas melampaui batas titik peneluran. Mereka menanam kembali pepohonan di pesisir yang telanjang, serta menggalang aksi bersih pantai bersama warga dan berbagai elemen mitra.
Tumpukan sampah plastik yang meracuni garis pantai ditangani lewat aksi nyata. Pesan pelestarian itu kemudian dibawa melompat lebih jauh melalui jalur wisata edukasi.
Di sini, pengunjung tidak sekadar disuguhi keindahan bentang alam. Mereka diajak menyelami denyut ekosistem pesisir dan memahami fragmen kehidupan penyu yang rapuh.
Dari kesadaran itulah Wahana Bahari merajut jaring kolaborasi yang lebih luas. Konservasi, bagi mereka, tidak boleh menjadi monopoli satu kelompok saja.
Masyarakat yang berumah di sekitar kawasan harus merasakan langsung manfaat dari lingkungan yang mereka jaga. Titik inilah yang mendorong lahirnya program pemberdayaan ekonomi warga.
Kelompok ini merintis budidaya dan produksi madu kelulut, mendampingi para peternak lokal, menggenjot kapasitas sumber daya manusia di sektor pariwisata, melatih pemandu wisata alam, hingga menopang tata kelola desa wisata.
Tidak ketinggalan, mereka mendampingi digitalisasi branding dan pemasaran produk, sekaligus membekali warga dengan pelatihan manajemen lingkungan serta pengelolaan sampah.
Bagi Zulfian, pelestarian alam hanya akan berdiri kokoh jika masyarakatnya memiliki kemandirian ekonomi yang tak harus merusak alam.
“Kami ingin konservasi dan penghidupan masyarakat bisa berjalan bersama,” tegasnya.
Visi besar itu tidak dibangun sendirian. Wahana Bahari menggandeng jejaring kemitraan lintas sektor—mulai dari Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Barat, Balai Pengelolaan Laut Pontianak, WWF Indonesia, PRCF Indonesia, WOW, hingga berbagai pihak lainnya yang bergiat di jalur yang sama.
Saat Camp Sungai Belacan Dipersoalkan
Menjaga Pantai Sungai Belacan bukan sekadar menghadapi tumpukan sampah, ancaman terhadap telur penyu, atau keterbatasan peralatan konservasi. Lebih dari itu, keberadaan Wahana Bahari di Camp Sungai Belacan kini berhadapan dengan persoalan pelik: klaim kepemilikan lahan.
Ada pihak yang tiba-tiba mengklaim tanah tempat berdirinya camp mereka. Klaim sepihak ini menjadi ancaman nyata yang dapat menggagalkan program pelestarian penyu yang tengah berjalan konsisten.
Persoalan sengketa lahan ini bukan sekadar urusan bangunan fisik. Jika kelompok konservasi ini terusir dari basis aktivitasnya, akses terhadap kawasan pantai dan kegiatan monitoring penyu otomatis terganggu. Di sinilah konflik agraria bersinggungan langsung dengan kerja-kerja penyelamatan lingkungan.
Bagi sebagian orang, camp tersebut mungkin hanya terlihat sebagai tempat singgah biasa. Namun, bagi Wahana Bahari, bangunan itu adalah titik nadi. Tempat melakukan pemantauan harian, menerima pengunjung, menjalankan edukasi publik, hingga merespons cepat saat penyu naik untuk bertelur.
Karena itu, keberadaan camp ini memiliki arti jauh lebih besar daripada sekadar menempati sebidang tanah. Mereka sedang mempertahankan ruang hidup untuk bekerja. Ruang yang berada tepat di jantung habitat penyu.
Krisis ini sekaligus membuka mata kita pada tantangan konservasi yang kerap luput dari sorotan. Para penjaga alam sering kali berada di posisi paling lemah ketika berhadapan dengan klaim atas ruang yang selama ini mereka rawat dengan sukarela.
Bagi Wahana Bahari, mempertahankan camp berarti mempertahankan salah satu titik kerja yang selama ini mereka gunakan untuk menjaga Pantai Sungai Belacan.
Sudah saatnya persoalan ini mendapatkan kepastian hukum, dukungan moril, dan penyelesaian adil yang tidak mengorbankan kerja-kerja konservasi maupun hak masyarakat dalam menjaga kawasan pesisir.
Bertahan Tidak Cukup dengan Niat
Di balik kerja-kerja pelestarian yang tampak gagah di permukaan, tersimpan kebutuhan yang sangat mendasar. Kehadiran manusia yang terus berjaga di garis depan lapangan.
Sebab, monitoring menuntut kesabaran waktu, pengamanan kawasan memeras tenaga, sementara pendataan membutuhkan ketelitian serta dukungan peralatan. Semua realitas itu membuktikan bahwa kerja konservasi tidak pernah cukup hanya bermodal niat baik.













Ya Allah.. bantulah niat orang2 baik ini ya Allah.. hanya ENGKAU yg menguasai semesta alam ini.. jauhkan dari niat jahat manusia yg akan merusak muka bumi ini..
Kuatkan hati mereka untuk menjaga agar keberlangsungan alam dan semua habitatnya dapat di wariskan ke anak cucu kami..
lunakkan hati mereka yg berniat tidak baik, kembalikan mereka ke jalan yg benar, wahai zat yg maha membolakbalikkan hati..
hanya kepadaMu kami memohon pertolongan.. aamiin ya Rabbal ‘aalamiin..