Photovoice Jawab Persepsi Warga tentang Banjir di Pontianak

Membangun kesadaran kolektif bahwa risiko banjir di Pontianak membutuhkan respons cepat, kebijakan yang berpihak, serta keterlibatan warga sebagai bagian dari solusi

Avatar
Pameran fotografi warga di Rumah Budaya Kampung Caping Pontianak menggugah kesadaran kolektif bahwa risiko banjir di Pontianak membutuhkan respons cepat, kebijakan yang berpihak, serta keterlibatan warga sebagai bagian dari solusi. Foto: Dok. Yayasan Kolase

Kolase.id – Diseminasi Photovoice “Mata Warga Memaknai Risiko Banjir Pontianak” berlanjut dengan agenda Pameran Foto Warga pada Jumat (16/1/2026) di halaman depan Rumah Budaya Kampung Wisata Caping Pontianak. Rangkaian kegiatan ini memicu kesadaran baru di kalangan peserta dan pengunjung pameran tentang risiko banjir yang selama ini kerap dianggap biasa.

Melalui foto dan cerita warga lewat program Photovoice yang digarap Yayasan Kolase melalui dukungan FINCAPES Project, banjir di Pontianak dipahami sebagai ancaman serius yang terus meningkat.

Salah satu peserta Photovoice, Nasywa Raida Nisriena, mengaku kegiatan ini jauh melampaui ekspektasinya. Ia semula mengira kegiatan hanya berupa presentasi formal belaka.

“Menurutku, kegiatannya di luar ekspektasi. Kalau dilihat di rundown itu cuma presentasi-presentasi biasa, tetapi ternyata jauh sekali dari ekspektasi,” ujarnya.

Dari paparan para narasumber, Wawa –sapaan akrab Nasywa Raida Nisriena, mendapatkan perspektif baru bahwa banjir tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga pada keadilan sosial.

“Tim ahli FINCAPES memberi tahu ternyata risiko banjir ini tidak bisa disamaratakan. Penanganannya harus mempertimbangkan kesetaraan gender dan ekonomi. Misalnya kalau banjir, orang yang paling rentan dulu yang harus diselamatkan. Itu jadi knowledge baru buat aku,” katanya.

Meski demikian, ia menilai masih minim respons konkret dari pemerintah terhadap keresahan warga.

“Dari Pemkot Pontianak, terutama Bapperida, pas ditanya solusi jawabannya cuma masyarakat yang mengantisipasi. Padahal banjir tanggal 8 Desember itu sudah tertinggi dalam 20 tahun. Harusnya sudah ada tindakan yang pasti,” ujarnya.

Melalui Photovoice, perempuan yang akrab disapa Wawa ini merasa pesan yang ingin ia sampaikan telah tersalurkan.

“Photovoice itu foto yang bersuara. Wawa sudah benar-benar menjelaskan apa yang ada di foto dan apa yang saya rasakan. Menurutku, semua yang dirasakan soal banjir itu sudah tersampaikan,” katanya.

Kegiatan ini juga mengubah cara pandangnya terhadap banjir. “Dulu Wawa menganggap banjir itu hal remeh, yearly agenda saja. Tetapi setelah Photovoice, Wawa sadar ini bukan banjir biasa. Dari penelitian itu, ternyata Pontianak bisa tenggelam,” ujarnya.

Menurutnya, kegiatan ini berdampak nyata pada peningkatan kesadaran peserta. “Benar-benar menambah knowledge, relasi, dan kesadaran. Wawa yakin seluruh peserta itu ada peningkatan awareness soal banjir,” katanya.

Ia juga menyoroti persoalan banjir yang dinilai tidak mencerminkan kondisi di lapangan. “Semoga ke depan banjir di Pontianak tidak cuma dianggap genangan karena harus 40 sentimeter dan durasi 24 jam. Padahal itu banjir tinggi, tetapi dianggap genangan, jadi tidak ada data banjir,” ujarnya.

Kesadaran serupa juga dirasakan pengunjung pameran foto. Indri, salah satu pengunjung, mengaku awalnya tidak menyangka pameran ini menyimpan cerita emosional.

“Awalnya datang ke pameran ini cuma pameran foto orang motret banjir saja. Ternyata fotografernya masyarakat yang merasakan sendiri. Ada cerita makam pamannya ikut terendam banjir dan fotografernya cerita sampai nangis. Ini bikin kita makin aware kalau banjir di Pontianak tak bisa dianggap sepele,” katanya.

Sementara itu, Wahyu, pengunjung lainnya, menilai foto-foto yang dipamerkan menunjukkan dampak banjir terhadap kelompok rentan.

“Paling tertarik foto rumah disabilitas tuli yang bekasnya terendam banjir cukup tinggi. Foto-foto ini bikin kita sadar, banjir ini dirasakan semua, tak peduli disabilitas atau kelompok rentan,” ujarnya.

Ia berharap pemerintah tidak lagi memandang banjir rob sebagai hal biasa. “Banjir ini bukan hal sepele. Kita harap pemerintah punya solusi. Banjir rob bukan cuma air dan bukan sesuatu yang harus dibiarkan begitu aja,” katanya.

Melalui Photovoice, warga tidak hanya memotret banjir, tetapi juga membangun kesadaran kolektif bahwa risiko banjir di Pontianak membutuhkan respons cepat, kebijakan yang berpihak, serta keterlibatan warga sebagai bagian dari solusi.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *