KJC 2026: Nilai Mangrove Lebih dari Sekadar Kayu, Pendampingan di Desa Medan Mas Ciptakan Ekonomi Pesisir Berkelanjutan

Dorong Jurnalisme Berbasis Solusi, KJC 2026 Angkat Praktik Baik Warga Medan Mas Mengolah Potensi Ekosistem Pesisir Jadi Produk Kerajinan hingga Kuliner Tanpa Merusak Lingkungan

Avatar
Madu mangrove sebagai salah satu komoditas unggulan di bentang pesisir Batu Ampar, khususnya Desa Medan Mas. Foto: Dok. Yayasan Kolase

Kolase.id – Pendampingan pengelolaan mangrove di Desa Medan Mas, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, mendorong masyarakat mengembangkan potensi ekosistem pesisir sebagai sumber penghidupan berkelanjutan.

Site Coordinator Yayasan Hutan Biru Noviansyah Putra mengatakan pendampingan yang dilakukan sejak 2021 mencakup tata kelola mangrove dan perikanan, pengelolaan kawasan, hingga penguatan kapasitas masyarakat.

“Semangat utama kami adalah bagaimana menghadirkan pengetahuan tingkat lokal agar bisa mendunia, kemudian pengetahuan itu kembali lagi dan memberikan manfaat bagi masyarakat lokal,” ujarnya.

Ia mengatakan salah satu pendekatan yang diterapkan adalah sekolah lapang pesisir yang diadaptasi dari pendekatan Food and Agriculture Organization (FAO) untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam mengelola sumber daya pesisir.

Pendekatan tersebut kemudian diarahkan untuk mendorong lahirnya berbagai produk ekonomi berbasis potensi lokal, mulai dari amplang hingga kerajinan yang memanfaatkan sampah dan bahan yang tersedia di sekitar masyarakat.

Menurut dia, upaya tersebut merupakan bagian dari pengembangan pilihan sumber penghidupan yang bersumber dari nilai ekosistem mangrove, sehingga masyarakat tidak hanya melihat mangrove dari sisi kayunya.

“Nilai mangrove itu sekarang bukan hanya soal kayunya, tetapi juga jasa ekosistem lainnya, termasuk hasil hutan bukan kayu dan hasil perikanannya,” katanya.

Selain penguatan ekonomi, pendampingan juga mendorong pengelolaan kawasan melalui patroli dan pemantauan serta penguatan regulasi di tingkat desa untuk memastikan ekosistem mangrove tetap terlindungi.

Sementara itu, Ketua Yayasan Kolase Andi Fachrizal mengatakan pihaknya bersama sejumlah organisasi nonpemerintah menggelar Kolase Jurnalis Camp (KJC) 2026 untuk mendorong jurnalis, kreator konten, dan mahasiswa mengangkat isu mangrove melalui jurnalisme berbasis solusi.

Ia mengatakan pendekatan jurnalisme solusi diperlukan agar pemberitaan tentang mangrove tidak berhenti pada persoalan kerusakan lingkungan, tetapi juga mengangkat potensi, daya lenting masyarakat, dan praktik baik yang berkembang di tingkat tapak.

“Peserta diajak masuk ke jantung ekosistem pesisir sekaligus mempertajam kepekaan dan keterampilan dalam mengemas data ilmiah serta realitas lapangan menjadi narasi jurnalistik yang memikat, hidup, dan menggerakkan,” katanya.

Rizal menilai Desa Medan Mas menunjukkan bahwa pelestarian mangrove dapat berjalan beriringan dengan pengembangan ekonomi masyarakat, antara lain melalui pengolahan sampah menjadi kerajinan, pengembangan produk amplang, dan upaya nelayan beralih dari praktik penangkapan yang tidak ramah lingkungan.

Penghargaan Medan Mas sebagai desa wisata terbaik ketiga se-Kubu Raya menjadi salah satu pengakuan terhadap potensi yang dimiliki desa tersebut. Namun, pengembangan wisata tetap perlu memastikan pertumbuhan ekonomi tidak mengorbankan ekosistem mangrove sebagai fondasi kehidupan masyarakat pesisir.

“Menjaga mangrove bukan sekadar menyelamatkan pohon-pohon di tepian laut. Menjaga mangrove berarti menjaga laut, melindungi sumber penghidupan, membuka peluang ekonomi, dan memastikan generasi berikutnya masih memiliki ruang untuk tumbuh,” katanya.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *