Kolase.id – Peran perempuan dalam menggerakkan perekonomian desa semakin nyata di Desa Pelapis, Kecamatan Kepulauan Karimata, Kabupaten Kayong Utara. Para ibu rumah tangga di desa pesisir ini tak lagi hanya berkutat pada urusan domestik, tetapi aktif mengolah potensi laut dan perikanan menjadi sumber penghasilan keluarga.
Melalui berbagai kegiatan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), para istri nelayan mampu memaksimalkan hasil perikanan, terutama saat musim paceklik melanda. Upaya ini tak hanya menopang ekonomi keluarga, tetapi juga memperkuat ketahanan sosial masyarakat pesisir.
Salah satu pelaku langsung perubahan itu adalah Suaibah, Ketua Kelompok Pengolahan Bakso Ikan Desa Pelapis. Ia menuturkan, sebelum ada kegiatan pengolahan ikan, para ibu nelayan cenderung tidak memiliki aktivitas produktif ketika hasil tangkapan menurun.
“Dulu kalau tidak ada ikan, kami hanya di rumah. Sekarang kami bisa tetap bekerja dan punya penghasilan tambahan. Saat bakso buatan kami terjual, rasanya senang dan bikin semangat,” ujar Suaibah.
Kesadaran akan pentingnya peran perempuan inilah yang mendorong PT Dharma Inti Bersama (DIB), pengelola Kawasan Industri Pulau Penebang (KIPP), merancang program pemberdayaan masyarakat berbasis UMKM. Sejumlah pelatihan dan pendampingan diberikan secara khusus kepada ibu-ibu Desa Pelapis.
Salah satu programnya adalah pelatihan produksi bakso dan nugget ikan yang diikuti 64 istri nelayan dari tiga dusun. Dalam satu kali produksi, kelompok ini mampu menghasilkan sekitar 86 kilogram bakso dan 45 kilogram nugget ikan. Seluruh hasil produksi tersebut langsung diserap oleh kawasan industri di Pulau Penebang.
Tak berhenti di situ, perempuan Desa Pelapis juga terlibat aktif dalam pengolahan hasil budidaya ikan lele.
Panen perdana pada awal Januari 2026 menghasilkan sekitar 700 kilogram lele. Ikan tersebut kemudian dimarinasi, dikemas secara vakum, dan dipasarkan ke KIPP. Dari proses ini, sebanyak 1.040 kemasan produk olahan lele berhasil terjual.
Sundusiyah dan Misnah, ibu rumah tangga asal Dusun Kelawar, mengaku senang bisa ikut terlibat dalam kegiatan marinasi lele. Menurut mereka, aktivitas ini membuka peluang baru bagi perempuan desa untuk tetap produktif.
“Kalau tidak musim ikan, kami tetap bisa beraktivitas dan membantu ekonomi keluarga. Usaha seperti ini bagus dan patut dicoba,” kata mereka.
Apresiasi terhadap program ini juga disampaikan Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kayong Utara, Hendra Budjang.
Ia menilai Desa Pelapis memiliki keunggulan yang jarang dimiliki daerah lain, yakni kepastian pasar bagi hasil produksi masyarakat.
“Mari kita jadikan ini momentum. Kelebihan Pelapis adalah ketika masyarakat bekerja, pembelinya sudah ada. Tinggal bagaimana kesiapan masyarakatnya,” ujarnya.
Sementara itu, Government Relation Manager DIB, Seno Ario Wibowo, menegaskan bahwa berbagai kegiatan di Desa Pelapis merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk tumbuh bersama masyarakat sekitar.
“Tidak perlu khawatir hasil panen lele ini akan ke mana. Perusahaan menjamin seluruh hasil panen akan diserap,” tegas Seno, seperti dalam rilis yang diterima Kolase.
Ia menambahkan, perusahaan memandang perempuan sebagai elemen penting dalam pembangunan ekonomi masyarakat pesisir.
Ketergantungan nelayan pada kondisi alam yang dinamis membuat sumber pendapatan alternatif menjadi sangat penting.
“Kami ingin memastikan para istri nelayan tetap memiliki penghasilan, bahkan di luar musim tangkap. Melalui pengolahan ikan, pembuatan bakso dan nugget, serta budidaya lele, perempuan bisa menjadi pelaku utama penguatan ekonomi keluarga,” jelasnya.
Selain bidang ekonomi, kontribusi perempuan Desa Pelapis juga terlihat dalam peningkatan kesehatan masyarakat.
Para kader Posyandu di empat lokasi, bekerja sama dengan Puskesmas dan DIB, rutin melaksanakan kegiatan Pemberian Makanan Tambahan (PMT), pemeriksaan kesehatan, serta sosialisasi gizi bagi anak-anak sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas hidup masyarakat desa.*












