Kolase.id – Sebanyak 12 warga Kampung Yuka, Kelurahan Sungai Beliung, Kecamatan Pontianak Barat, Kota Pontianak, mengikuti pelatihan menjahit dan pembuatan tote bag yang berlangsung selama dua hari, 31 Oktober hingga 1 November 2026.
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Gerakan Pembaharu (Gaharu) Pontianak ini menjadi ruang belajar bagi masyarakat, khususnya kaum Ibu untuk mengenal keterampilan dasar menjahit, mengolah bahan kain, hingga menghasilkan produk sederhana yang memiliki nilai guna dan berpotensi dikembangkan menjadi peluang usaha.
Pelatihan mengusung tema “Berdaya melalui Keterampilan: Belajar Menjahit dan Membuat Tote Bag”. Pelatihan yang difasilitasi Sukardi dari Gaharu Pontianak ini menghadirkan Elfitri dari Indonesian Innovative Dressmaker Community (IIDC) Wilayah Kalbar sebagai trainer.
Dalam pelatihan tersebut, peserta diperkenalkan dengan berbagai perlengkapan menjahit, termasuk mesin jahit portable, jenis kain, kain keras, furing, resleting, serta tali webbing. Peserta juga mempelajari cara menentukan ukuran, membuat pola, mengukur, menandai, dan memotong kain sesuai rancangan tote bag.
Tidak hanya mendapatkan materi, peserta juga terlibat langsung dalam praktik menggunakan mesin jahit. Pendampingan dilakukan secara bertahap, mulai dari latihan jahitan dasar hingga proses merakit bagian utama tas, memasang furing, resleting, dan tali.
Pada hari kedua, peserta melanjutkan praktik penyelesaian produk. Hasil pekerjaan peserta kemudian ditampilkan untuk mendapatkan masukan dan evaluasi dari trainer.
“Gaharu Pontianak mendorong masyarakat tidak hanya memiliki kemampuan memproduksi barang, tetapi juga mulai mengenal peluang pengembangan usaha,” kata Sukardi.
Menurut Sukardi, keterampilan produksi dapat menjadi langkah awal yang perlu dilanjutkan dengan penguatan kapasitas dalam pengemasan produk, penentuan harga, pemasaran, fotografi produk, serta pemanfaatan media sosial.
Dalam jangka panjang, kata Sukardi, produk kreatif masyarakat ini diharapkan dapat menjadi salah satu identitas Kampung Yuka sekaligus mendukung pengembangan potensi wisata berbasis komunitas.
Pelatihan ini menjadi salah satu upaya membangun kemandirian masyarakat melalui keterampilan praktis. Namun, keberlanjutan program tetap membutuhkan pendampingan, ketersediaan peralatan, pengembangan kualitas produk, serta akses pemasaran.
“Muaranya agar keterampilan yang diperoleh tidak berhenti sebagai kegiatan pelatihan, melainkan berkembang menjadi aktivitas produktif dan peluang ekonomi masyarakat,” kunci Sukardi.*












