Kolase.id – Arus globalisasi dan perkembangan teknologi digital dinilai mulai menjauhkan generasi muda dari cerita serta budaya lokal di pesisir Sungai Kapuas, Kalimantan Barat. Kondisi itu mendorong Duta Bahasa Kalimantan Barat mengajak sekitar 30 anak kembali mengenal lingkungan dan budaya di sekitarnya melalui kegiatan menulis, menggambar, hingga mendokumentasikan cerita lokal.
“Yang patut menjadi prihatin, melalui gawai banyak juga hal-hal negatif yang terserap. Berharap dengan festival literasi ini mereka bisa mengimbangi, walaupun mereka bergawai, tapi mereka tetap punya hasil,” kata Amanah Hijriah, Widyabasa Ahli Pertama Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Barat di Pontianak, Minggu (9/8/2026).
Upaya tersebut diwujudkan melalui Riak Bertutur, Festival Literasi Kapuas 2026 yang menjadi puncak Krida Duta Bahasa Provinsi Kalimantan Barat. Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang diseminasi hasil pendampingan menulis kreatif yang dilakukan sebanyak 10 kali pertemuan.

Sebanyak 30 anak dilibatkan dalam proses kreatif untuk menghasilkan antologi cerita bertema “Narasi Lokal Pesisir Sungai Kapuas”. Tidak hanya menulis, para peserta juga membuat ilustrasi sendiri dan merekam suara untuk melengkapi karya audio visual yang mereka hasilkan.
Amanah menilai, perkembangan teknologi tidak selalu menjadi ancaman bagi literasi dan pelestarian budaya. Gawai justru dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk membaca, menulis, mendokumentasikan, sekaligus menyebarluaskan cerita lokal kepada masyarakat yang lebih luas. “Anak kecil tidak hanya bergawai, tapi mereka bisa menciptakan sebuah karya,” katanya.
Duta Bahasa Kalimantan Barat 2026 Rahma Anggit Khairunnisa mengatakan seluruh cerita dalam antologi tersebut berasal dari gagasan dan pengalaman para peserta. Menurutnya, fasilitator hanya berperan mendampingi dan memantik ide, sementara proses penulisan hingga pembuatan ilustrasi dilakukan oleh anak-anak.
“Tujuan utama Krida Kapuas itu adalah mendokumentasikan narasi lokal di pesisir Sungai Kapuas,” kata Rahma.
Dalam prosesnya, peserta diajak mengeksplorasi lingkungan sekitar untuk menemukan bahan cerita. Mereka antara lain mendatangi Cafe Apung, menggali informasi dari narasumber, kemudian menuangkannya kembali dalam bentuk tulisan dan ilustrasi sesuai sudut pandang masing-masing.
Rahma menilai dokumentasi narasi lokal menjadi penting karena cerita dan budaya di kawasan pesisir menghadapi tantangan dari globalisasi dan modernisasi. Anak muda, kata dia, cenderung menganggap hal-hal lokal sebagai sesuatu yang kuno sehingga diperlukan ruang untuk menunjukkan bahwa budaya lokal juga memiliki nilai dan dapat dikenal lebih luas.
“Lokalitas kita ini juga keren, bisa berdaya dan mengglobal, alih-alih kita hanya menggaungkan budaya-budaya luar,” ujarnya.
Pemanfaatan teknologi tersebut juga dilakukan Duta Bahasa melalui media sosial dengan membuat konten berupa video pendek, desain grafis, serta dokumentasi bahasa dan budaya lokal Kalimantan Barat.
Menurut Rahma, pola tersebut menjadi salah satu cara sederhana bagi anak muda untuk memperkenalkan kembali kekayaan lokal di tengah derasnya arus budaya global.
“Sekarang adalah era digital, ini justru menjadi peluang dan juga potensi yang sangat besar untuk teman-teman muda merekam, mendokumentasikan apa saja budaya-budaya kita,” ujarnya.
Melalui Hari Puncak Krida Duta Bahasa dan Riak Bertutur, Festival Literasi Kapuas 2026, hasil karya para peserta disebarluaskan melalui peluncuran antologi cerita anak serta Bincang Literasi Budaya bertema “Merekam Narasi Lokal Sungai Kapuas”.
Upaya tersebut diharapkan tidak hanya menjaga cerita lokal tetap hidup di tengah masyarakat pesisir, tetapi juga membuka peluang agar narasi Sungai Kapuas dikenal lebih luas melalui platform digital.*












